Senin, 01 November 2010

KAMI, "SEDANG INGIN BERPRESTASI ! "

“ Kita, Kita semua
adalah buah dari pohon yang sama,
dedaunan dari sebuah cabang,
bunga – bunga sari taman yang sama,
not – not dari halaman musik yang sama,
kord – kord dari lagu indah yang sama,
meski jari – jari ditanganku ada lima,
tentang tanganku, harus dikatakan
hanya ada satu saja”
konser Musikademia II, Gelora Bung Karno, 2001 (dalam Leksono 2004*)

Bayangkan seribu karya per satu orang kali seribu pegiat desain berada di atap yang sama, hilir mudik di kampus, fakultas, jurusan dan bidang yang sama, berkarya atas nama bidang yang sama, tapi tanpa sebuah pergerakan yang sama. Singkatnya itu saja analogi yang mewakili alasan betapa pentingnya sebuah kolektif yang memfasilitasi proses berkarya bagi setiap pegiatnya.
Kreativitas atau jabaran sederhananya beraktivitas kreatif, atau berkreasi, sudah tentu dilakukan per satu mahasiswa DKV perharinya hingga pertahunnya, entah itu modusnya tugas kuliah, pemantapan softskill untuk bekerja, money oriented, atau modus apapun. Cukupkah prestasi demikian?. Bayangkan untuk kedua kalinya, keberagaman aktivitas berkarya di bidang desain tanpa suatu pengikat berupa wadah yang mampu memberikan referensi, wawasan keilmuan desain dan ruang pengaplikasiannya, nilai dan kapasitas sebagai cikal bakal desainer yang siap berkecimpung di dunia masyarakat, wadah yang memfasilitasi itu semua.
Hadirnya PROCESS SCHOOL OF ILLUSTRATION sebagai komunitas yang dibentuk kolektif oleh mahasiswa fakultas desain UNIKOM cukup menjawab permasalahan tadi. Lahir sejak Oktober 2007, dilatarbelakangi dan dilandasi sebagai sebuah komunitas kreatif yang menghimpun mahasiswa untuk sharing dan membuka diskusi seputar perkembangan desain dikalangan institusi dan masyarakat. PROCESS sebagai wadah komunikasi diskusi visual memiliki peranan penting khususnya dalam praktik hasil desain yang ditujukan untuk kepentingan masyarakat luas. Jadi, PROCESS aktif mewadahi gagasan di bidang desain yang merangkul kepentingan masyarakat dan melibatkan para mahasiswa sebagai pemuda, roda penggerak pergerakan.

Mewadahi gagasan mahasiswa? Lalu apa bedanya dengan HIMA DKV UNIKOM?
Tentu saja berbeda. Salah satunya, HIMA dari, oleh, dan untuk mahasiswa, sedangkan PROCESS boleh jadi dari, dan oleh mahasiswa, tapi untuk publik, untuk masyarakat secara luas. Lebih jelasnya, PROCESS SCHOOL OF ILLUSTRATION merupakan proyek mandiri yang terlepas dari keterikatan organisasi dengan intansi kampus, fakultas, jurusan DKV, walaupun keberadaannya diketahui dan dibesarkan oleh birokrasi tadi. Berbeda dengan HIMA yang kita ketahui merupakan turunan kecil dari birokrasi fakultas dan jurusan DKV.

Apa saja yang sudah kami lakukan?
Kami mengaplikasikan semua keilmuan DKV yang didapat dari bangku kuliah  per mahasiswa dimasanya, kedalam karya yang universal dengan tema, media, dan waktu yang sama. Dibawah ini prestasi – prestasi yang sudah kami lalui bersama dari tahun terbentuknya, 2007 hingga 2009, dibawah kibar bendera PROCESS dan cukup mengharumkan nama almamater dan fakultas. 


 PROCESS SCHOOL OF ILLUSTRATION lahir dari kebutuhan bahwa untuk menjual atau merepresentasikan karya seni dan desain sebagai media atau pesan yang manfaatnya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat, tidak bisa dilakukan oleh satu orang saja, atau kelompok tanpa kapasitas jaringan yang memadai, atau kelompok dengan idealisme pribadi.
PROCESS seperti halnya komunitas lain, kebesaran dan keefektifan kontribusinya tentu membutuhkan banyak partisipan maupun apresiator yang mau berkolektif dan melakukan pergerakan di bidangnya (desain).  Motto kami saat ini : “SEDANG INGIN BERPRESTASI!” jadi, diskusi yang dibuka pun, bukan sekedar diskusi mengangkat wacana, menciptakan gagasan, tapi tanpa kelanjutan.  Dari manapun kalangan keilmuanya, periode akademiknya, siapapun yang memiliki visi dan misi yang sama dan mau bergerak bersama, dalam hal ini karya seni dan desain untuk masyarakat, PROCESS membuka diri untuk bekerjasama. Ayo Berkarya!

Lantas siapakah apresiator dan partisipan itu, perorangan mahasiswa DKV, atau hanya anggota resmi PROCESS saja?
Sejak berdirinya tahun 2007 hingga 2009, PROCESS telah berhasil melibatkan sejumlah nama- nama mahasiswa prestatif dalam event – event hingga sekaliber nasional, baik pengurus aktif maupun partisipan dari kalangan mahasiswa DKV UNIKOM. Ini sebuah prestasi. Artinya, PROCESS secara mandiri berhasil membuka celah baru bagi mahasiswa DKV untuk menambah kapasitas dirinya, berkarya dan berprestasi membawa nama baik komunitas dan almamater.

PROCESS SCHOOL OF ILLUSTRATION menjamin mau dan mampu, mewujudkan gagasan baru diruang lingkup kedesainan untuk masyarakat yang lebih baik.  Ayo gabung!

Jumat, 27 Agustus 2010

ADA MURAL, ADA SENANG ADA DUKA

Lisna Kusmyaty-PROCESS CREATIVE 
 
30 Juli 2010. Mural mural mural. Ini adalah waktunya aku bersama teman-teman process seangkatanku mural di gang Panji untuk kedua kalinya. Kalau untuk process ini tahun ketiga pocess mural dimana process selalu mengadakan mural setiap tahunnya sejak tahun 2008. Ada beberapa hal yang berbeda dari mural tahun ini dengan tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini mural bertema mural budaya yang mengangkat cerita rakyat dan permainan rakyat khususnya Jawa Barat. Dan untuk mural budaya ini aku mengangkat cerita Ciung Wanara. Sang pangeran terbuang yang gemar bermain adu ayam bersama ayam jago kesayangannya, hingga adu ayam ini membawanya kembali ke kerajaan. Tahun ini juga yang berbeda adanya  struktur organisasi yang dibentuk process demi terciptanya mural yang lebih baik dan terstruktur dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Oh iya, tahun ini juga ada acara pembukaannya dimana sedikit resmi yang diresmikan ibu camat di Hegarmanah dengan menggoreskan goresan pertamanya.
Peresmianpun selesai. Ini waktunya aku dan teman-temanku bekerja!
Sedikit menyedihkan hari ini , hari pertama sudah terjadi masalah. Ada salah satu warga yang tidak setuju dengan diadakannya mural di gang panji terutama tembok didepan rumah warga tersebut. Dan yang lebih menyedihkannya lagi tembok yang dipermasalahkan warga tersebut merupakan bagian tembokku. Setelah beberapa lama akhirnya aku pindah ke tembok yang lain, dan sekarang aku mulai bekerja tanpa harus membuang waktu lagi dan melupakan permasalahan yang tadi.
Setiap harinya semua berjalan dengan baik, tidak ada masalah yang dipermasalahkan lagi. Hanya saja keadaan cuaca yang kadang panas kadang hujan membuat kami sedikit khawatir dan kesal. Ada satu hal lagi yaitu ketinggian, ketinggian mural kali ini benar-benar menantangku. Sedikit takut dan gemetar saat berada di ketinggian sampai-sampai ada beberapa hasil goresan catku yang tidak rapi.
Akhirnya selesai sudah muralku ini., semua aku selesaikan dengan tepat waktu. Ada rasa tenang dan sedikit puas dengan hasilnya.Aku senang semua warga begitu antusias dengan mural ini terutama bagi anak-anak kecil di daerah gang panji. Ya, sedikit bernostalgia dengan ilustrasi dari cerita rakyat dan permainan rakyat bagi warga yang sudah berumur sambil mengenang masa-masa kecil dulu. Sedangkan untuk anak-anak kecilnya sedikit bisa tahu bahwa permainan rakyat kita lebih kaya walaupun sekarang sudah jarang terlihat lagi dan setidaknya anak-anak bisa melihat sebagian cerita rakyat yang sudah jarang diceritakan orang tuanya.
Untuk semuanya aku cukup puas dengan mural tahun ini. Semoga saja tahun depan aku dan teman-teman processku bisa kembali mengadakan mural lagi. Ya kita lihat saja nanti.
Pesanku kita cintai karya negeri kita ini dan jangan pernah melupakannya. SEMANGAT!
\(^_^)/

Kamis, 26 Agustus 2010

Berperang Selama Tujuh Hari di Gang Panji

Irfan Maulanasam-PROCESS CREATIVE 


“ terima kasih ya Allah atas badan yang sehat, hati yang tenang, dan pikiran yang dapat berpikir secara jernih”. setidaknya itulah rasa syukur yang terucap dalam hati ketika mural bisa terselesaikan pada waktunya.
    Hujan yang turun selama kurang lebih 4 hari berturut-turut sangat menghambat pekerjaan kami dalam melaksanakan mural, namun langkah kami tidak surur sampai disitu. niat dan tekad yang kuat untuk membuat satu gang menjadi lebih indah dan nyaman untuk dipandang membuat kami pantang menyerah hanya hanya karena cucuran air hujan. memang ada rasa lelah dan bosan selama menggambar di tembok, apalagiketika mendengar salah satu teman kami sudah selesai. rasa gusar langsung menghantui, namun semu itu bisa dilewati dalam waktu 7 setengah hari terakhir dalam pelaksanaan mural di gang tersebut.
    Tema yang saya pilih untuk mural kali ini ialah permainan rakyat yaitu perang-perangan memakai pelepah daun pisang. ya, itulah yang saya pilih ketika diajukan pertanyaan apa yang akan saya gambar. tak tahu kenapa saya lebih memilih permainan itu? mungkin karena pengalaman masa kecil saya yang selalu memainkan permainan tersebut bersama teman saya ketika masih kecil.masa kecil yang penuh dengan tawa. tawa anak-anak bocah desa ketika bermain dan bercengkrama yang mungkin takkan tergantikan oleh apapun. di waktu itu saya merasakan bagaimana rasanya hidup tanpa beban apapun yang harus dipikul ketika saya dewasa sekarang ini. menjadi anak kecil di masa itu ialah hal yang menyenangkan karena kegiatan kami sebagai anak kecil hanya darmaji (istilah bahasa sunda yang berasal dari singkatan dahar modol sare ulin yang artinya makan, buang air besar, tidur, dan main) yang selalu dibicarakan orangtua kami bila kami bermalas-malasan dan susah disuruh.
    Rasa syukur saya panjatkan kepada Allah.SWT karena dahulu ketika kecil bisa hidup di jaman dimana krisis moneter belum bergejolak seperti sekarang ini. dimana ketika itu belum ada cerita anak kecil umur 5 tahun tertabrak mobil di jalan raya karena lari dari kejaran trantib karena menjadi pengamen ataupun pengemis, ataupun ibu yang bunuh diri bersama anaknya karena himpitan ekonomi. bagi kami cerita tersebut hanya akan terjadi dalam dongeng belaka dan tidak mungkin terjadi ketika itu. namun, semuanya menjadi kenyataan di jaman sekarang. dahulu, kami tak pernah mendapati rumah yang didepannya ada tembok besar yang tinggi yang langsung menghalangi pandangan kami saat pagi hari yang menyebabkan sinar matahari tidak dapat langsung masuk lewat jendela sehingga kami bisa merasakan hangatnya saat kami bangun tidur. miris rasanya ketika melihat keadaan gang tersebut dibandingkan kenyataan yang kami alami di rumah dimana pagi hari kami bisa bangun pagi dengan melihat cerahnya pagi disertai rerumputan hijau dan pepohonan, kadang juga terdengar suara ayam berkokok dan suara burung-burung yang membangunkan tidur kami. mereka (masyarakat di gang panji) mungkin sudah bisaa bangun pagi dengan tidak melihat sinar mentari di depan jendela. malah ada yang menyebutkan kalau disana ialah negeri tanpa matahari karena rumah mereka tertutup oleh tembok tinggi persis di halaman rumah mereka sehingga matahari tidak langsung masuk ketika pagi telah menjelang.
    Jujur saja, tugas berat bagi kami untuk menggambar disana. selain karena media tembok yang tidak bisaa kami jumpai ketika kuliah karena bisasanya menggambar dilakukan di media kertas dan pensil atau alat gambar lainnya, juga karena jalan sempit yang harus dibagi ketika motor lewat atau ada pedagang yang bisaa berjualan di gang tersebut. juga karena apa yang kami gambar tidak bisa dimengerti oleh orang-orang disana. rasa waswas menghampiri kami ketika mulai membuat sketsa dengan kapur dan  perlahan menggoreskan kuas yang telah dicelupkan cat yang sudah kami racik ke lapak (istilah anak process untuk jatah tembok yang digambar). Dan mungkin rasa lega mulai saya rasakan ketika sekumpulan bocah datang menghampiri gambar saya. Mereka memperagakan dan mengomentari gambar saya, mereka bilang begini “tah ieu mah gambar peperangan nu make daun cau tea. Inget teu? (sambil menyenggol temannya) tuh kitu tuh maenkeuna tooo..rolok tooo..rolok tooo..rolok tooo..rolok (sambil memperagakan yang salah satu obyek yang saya gambar)”. Lalu kemudian ia berlari dan diikuti teman-temannya yang lain. Entah, mungkin karena ia malu atau takut dilihat oleh orang saat melakukan hal tersebut. Begitulah sepenggal cerita yang saya pribadi alami juga saya ingat karena kekhawatiran saya apabila masyarakat disana tidak bisa mengerti apa yang saya gambar tidak sepenuhnya benar. Selain dari kebanggan tersendiri bagi saya dan teman-teman karena telah mewarnai sebuah gang yang tadinya hanya berwarna abbu menjadi lebih berwarna sehingga mudah-mudahan bisa mempengaruhi bagi kondisi pisikis maupun psikologis masyarakat disana agar bisa lebih baik dari sebelumnya, amien…..
Tulisan selesai tanggal 23 Agustus 2010 jam : 13.33 wib

Rabu, 25 Agustus 2010

Malin Kundang

Windy L Pebriani-PROCESS CREATIVE 

 Berawal dari kata bijak yg pernah saya dengar yaitu Hanya orang takut yang bisa berani, karena keberanian adalah melakukan sesuatu yang ditakutinya. Kata-kata inilah yang memulai saya berani untuk melakukan kegiatan MURAL yang dilaksanakan PROCESS CREATIVE tanggal 30 July lalu di gang Panji Hegarmanah. Kata MURAL awalnya sangat asing ditelinga saya. Di Process Creative inilah saya mengenal apa itu namanya MURAL. MURAL merupakan suatu kegiatan dimana kita menggambar atau melukis diatas media dinding atau tembok.

Dari tema MURAL yang mengangkat mengenai kearifan lokal saya mengambil cerita mengenai Malin kundang. Sedikit melenceng dari tema yang di sarankan Pak dodi yaitu pembimbing kami di process. Seharusnya tema kearifan lokal harus dari daerah Jawa Barat dan saya mengambil tema dari daerah Sumatra Barat. Tapi itu bukan masalah, karena pada intinya kita menyampaikan kearifan budaya lokal sebagai sarana edukasi terhadap masyarakat.

Sedikit bercerita tentang pengalaman mural saya, hari pertama mural pun dilaksanakan. Dengan perasaan penuh takut saya bergegas menuju Hegarmanah yaitu tempat dimana mural dilaksanakan. Saat tiba di gang Panji anak-anak Process yang lain sudah berkumpul dengan sebuah koclokan di tangan, tujuannya anak-anak mau mengundi tempat dimana kita akan menggambar. Woo ternyata ga semua tembok yang diundi bagus. Ada 3 bagian tembok yang bertekstur kasar, saya menyebutnya tembok “korodok”. Ah mimpi buruk buat saya jika dapet tembok itu. Ketakutan pun begitu besar. Satu demi satu pengundian pun berlangsung. Ya dengan perasaan sedikit lega karena 2 tembok korodok sudah keluar. Tapi masih ada satu tembok korodok yang blum keluar. “Ya Tuhan ini pengalaman pertama mural saya, masa saya harus dapet tembok korodok”, itu gumam saya dalam hati. Dan giliran saya untuk mengundi pun tiba, dengan perasaan penuh takut dan was-was saya mengeluarkan kertas undian. Dan saat dibuka! Ahhh tidakk!! ZOONKK..!! saya mendapat tembok korodok. Tangan langsung gemeteran, perasaan ga karuan. Ya tapi mu gimana lagi, ini takdir, dan menurut saya ini takdir yang lumayan kejam.hhehe pikir saya waktu itu. Tapi dsini saya dituntut untuk lebih bekerja keras, jangan putus asa, karena semuanya belum dicoba.

Saya memulai sketsa gambar dengan kapur tulis, cobaan datang lagi sketsa ga bisa dibuat karena tembok korodok susah untuk di gambar dengan kapur tulis, hmmb yang ada kapurnya mala kayak diparut, mudah sekali abis. Akhirnya saya memulai semuanya tanpa sketsa, langsung mewarnai gambar dengan cat. Ya lumayan sulit karena tekstur tembok yang kasar membuat saya harus mewarnai berulang-ulang. Di tengah-tengah ngemural banyak anak-anak di sekitar gang Panji yang melihat saya menggambar, dan mereka tau bahwa yang saya gambar adalah cerita malin kundang . Yes!! :D Perasaan bahagia pun datang karena ini menandakan saya dapat menyampaikan bahwa itu cerita malin kundang. Dan sambil menggambar saya pun bercerita dengan anak-anak mengenai malin kundang yang durhaka pada ibunya, dan akhirnya dia dikutuk menjadi batu. Anak-anak merespon cerita saya, mereka bilang “berarti kita ga boleh durhaka ma mama,bisi di kutuk” :D ya kurang lebih seperti itu. Mungkin ini salah satu tujuan dari mural ini, yaitu memberikan edukasi terhadap masyarakat sekitar mengenai budaya kearifan lokal.

Hari demi hari berlalu dan saya semakin nyaman dengan tembok korodok yang saya gambar, ternyata tembok ini mudah untuk di gradasi warnanya karena tekstur tembok yang kasar yang mudah membuat cat menjadi satu kesatuan. Akhirnyaa ini lah yang dinamakan anugrah dalam musibah. Makasih Tuhan,, ..

Hari ketujuh pun datang, ini adalah hari terakhir ngemural. Dan gambar saya pun selesai di hari ini. Ya dengan perasaan sangat senang sekaligus bangga saya dapat menyelesaikan Mural ini.  terima kasih Tuhan ini merupakan pengalaman yang sangat berharga dan menyenangkan buat saya. Terima kasih juga kepada semua warga gang Panji yang telah menerima kami dengan baik. Semoga hasil kerja kami dapat bermanfaat dan menjadi kontribusi positif bagi masyarakat. amin

SANGKURIANG DI BALIK TEMBOK

Diky Fajar-PROCESS CREATIVE 

 Perencanaan dan beragam ide untuk menggarap tembok yang berada di Gg. Panji, sebetulnya sudah terencana jauh – jauh hari sebelumnya, tema yang yang akan diangkat pun sudah ditentukan sebelumnya, namun terkadang rencana tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, banyak halangan yang membuat mural ketiga ini semakin di undur diantaranya jadwal kuliah, perijinan dari RT/ RW dan lainya. Namun itu tidak membuat surut semangat dari teman – teman Process untuk  mewujudkan setiap sudut Gg di Bandung menjadi lebih berwarna.
Berawal dari sebuah seketsa di atas kertas yang bertema Cerita dan permainan rakyat Jawa barat Saya dan teman – teman Process berangkat dengan niat yang tulus membuat karya untuk masyarakat.
Hari pertama kami melakukan undian untuk memperoleh dinding yang kemudian akan kami gambar, meskipun pembagian tembok ini tidak di hadiri oleh seluruh teman – teman Process tetapi semua berjalan dengan lancar dan semuanya mendapatkan dinding yang akan di gambar. Ujian tidak hanya sampai disini setelah semua mendapatkan dinding masing – masing dan memulai sketsa, ada salah satu warga yang tidak setuju dinding di depan rumahnya kami gambar, kejadian itu sejenak membuat sebagian teman – teman yang lain berhenti membuat sketsa dan mencoba meluruskan masalah tersebut kepada ketua RT setempat. Akhirnya keputusan diperoleh secara mufakat  dan sebagian dari teman – teman yang sudah memperoleh dinding harus berpindah ke dinding yang lain. Kejadian itu sekaligus memberikan pelajaran pada kami bahwa setiap orang mempunyai selera serta pemikiran yang berbeda dan mempunyai arti tentang keindahan masing – masing personal.
Proses mural ketiga ini direncanakan berjalan sekitar delapan hari karena ijin yang diberikan hanya dari tanggal 30 juli sampai dengan 6 agustus 2010. Berbeda dengan mural sebelumnya yang dilakukan tahun kemarin, mural kali ini saya mendapat banyak kesulitan baru di mulai dari dinding yang lebih tinggi dan lebar serta panas matahari yang menyengat lebih lama, dan kondisi Gg yang lebih sempit sehingga membuat jarak pandang menjadi lebih terbatas. Di hari ke enam kami kedatangan tamu yang tidak di sangka, dia adalah seorang wartawan media online yang tertarik dan ingin meliput kegiatan kami, itu memberikan kebanggaan tersendiri bagi saya dan teman – teman yang lain dan tentunya memberi semangat serta memotivasi kami untuk terus berkarya.
Disela istirahat saya beserta teman – teman mengisi waktu dengan canda, mengobrol dan saling memberi masukan tentang gambar yang sedang dibuat. Terkadang waktu istirahat menjadi begitu panjang karena hujan yang hampir setiap sore datang, hal itu membuat saya dan teman – teman yang lainya panik karena cat yang belum kering luntur terkena air hujan, serta banyak waktu yang terbuang karena hujan tersebut. Tetapi warga disana dengan senang hati memberikan semangat berupa camilan dan tempat untuk berteduh yang cukup memuat saya dan teman – teman beristirahat menunggu hujan reda.
Dihari terakhir saya dan teman – teman menyelesaikan mural sampai malam hari karena sebagian teman – teman ada yang belum selesai bahkan ada yang tidak dapat menyelesaikan gambarnya karena kondisinya yang kurang sehat, karena waktu yang di berikan hanya delapan hari maka di hari kedelapan kami semua bekerja sama menyelesaikan gambar terakhir bersama – sama, keadaan semakin sulit ketika kondisi semakin gelap dimalam hari. Seketika masalah terpecahkan ketika salah satu dari kami membawa lampu senter tetapi lampu senter itu hanya memberikan sedikit penerangan, kemudian tidak lama setelah itu sebagian dari teman kami datang membawa lampu neon panjang yang di pinjam dari warga tentunya hal itu sangat membantu dan akhirnya kami pun dapat menyelesaikan gambar tersebut, meskipun hasilnya mungkin tidak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh teman kami.
Tanggal 8 agustus 2010 menjadi hari penutupan untuk menutup kegiatan mural Process yang ketiga, acara disambut oleh RT, RW, Perwakilan dari hotel Seriti, dan ketua jurusan dari kampus DKV Unikom, meskipun beliau datang pagi dan tidak dapat ikut dalam acara penutupan tersebut tetapi kami sangat berterima kasih.
Meskipun lelah setelah kegitan selama delapan hari tanpa henti akan tetapi rasa lelah tersebut terobati ketika melihat ekspresi wajah masyarakat yang  tersenyum dan menjadi cerita bagi anak - anak saat melihat gambar kami dan menanggapinya dengan positif, sangat berbeda ketika dinding itu masih kosong, orang - orang hanya lewat begitu saja, dinging tanpa ekspresi. Itu menjadi sebuah kebanggan dan kepuasan tersendiri karena karya yang saya buat dapat dinikmati oleh berbagai kalangan.

“RESISTENSI TEMBOK ABU – ABU “

 Irvan Mardiansah-PROCESS CREATIVE

Pada kesempatan kali ini saya akan kembali mengulas tentang latar belakang dari kegiatan mural yang sudah berjalan 3 tahun terakhir ini di Gg. Panji  Jl. Hegarmanah Bandung. Karena saya pikir kita harus kembali mengingat apa tujuan utama dari kegiatan mural yang kita lakukan ini supaya dapat di pertanggungjawabkan dan menjadi sesuatu yang berarti bagi kita seniman mural dan masyarakat pada umumnya. Trigger kegiatan “ Mural Budaya 2010 “ ini berangkat dari keprihatinan PROCESS terhadap kondisi anak – anak terutama yang berada didaerah perkotaan yang sudah melupakan bahkan tidak tahu dengan khasanah cerita / legenda dan permainan rakyat Jawa Barat pada khususnya. Anak – anak pada saat ini lebih mengenal hero dan heroine dari barat dan yang sedang happening sekarang cerita Upin & Ipin dari negara tetangga kita Malaysia, daripada cerita Lutung Kasarung misalnya. Terlebih lagi mereka sampai menduplikasi / mengadopsi hero dan heroine dari barat atau Upin & Ipin tersebut melalui t – shirt, accessories, dan sebagainya menjadi suatu gaya hidup kebendaan. Menyikapi hal tersebut kita sangat merasa sedih, kita seperti dipecundangi dan dilecehkan. Kita semakin masuk ke dalam hegemoni negara barat dan negara tetangga Malaysia, terlebih lagi mengingat kejadian beberapa saat kebelakang. Malaysia melalui Truly Asia – nya telah mengakui beberapa khasanah budaya kita menjadi bagian dari negaranya.  Dengan alibi karena mereka satu rumpun dengan kita, jadi mereka merasa kebudayaan yang kita miliki adalah bagian dari kebudayaan mereka juga. Hal tersebut menjadi deret panjang kesewenang wenangan mereka yang semakin merobek harga diri Negara kita.
Melalui hal kecil yang kita lakukan ini, mudah – mudahan bisa menjadi suatu resistensi dari penjajahan dalam bentuk kebudayaan. Walau dalam pelaksanaannya kita rasakan tidak mudah, karena kita harus melewati berbagai hambatan dan hinaan, tetapi hal tersebut tidak menyurutkan tekad kita untuk terus bergerak. Terus merangsak masuk dari gang ke gang untuk menumpahkan cat ke dinding – dinding  tinggi yang menjadi penanda dari keangkuhan, ketidakramahan dan perampasan akan hak – hak ( hak mendapatkan cahaya matahari ). Ya! Kita akan meruntuhkan dan membungkam keangkuhan tersebut dengan karya kita. Terus bergerak dari mulai sekarang dan seterusnya, sebelum terlambat dan tercuri lagi! ( saya yakin mereka akan mencuri lagi!).
Kalau semua orang menyadari akan output positif dari kegiatan ini, saya yakin tidak akan ada yang kontra terhadap kegiatan ini, seperti yang telah kita alami di hari pertama mural. Sikap kontra yang lahir dari kearoganan dan sentimen pribadi. Selain itu saya yakin teman – teman mahasiswa lainnya akan banyak yang bergabung dan melakukan hal yang serupa, daripada membuang waktu percuma di masa  - masa liburan seperti saat ini. Satu hal lagi, saya yakin teman – teman seniman mural yang terlibat pada “ Mural Budaya 2010 “ akan selalu ingat dengan kegiatan tersebut dan akan selalu ikut serta di tahun – tahun berikutnya, untuk sesuatu yang berarti sebelum kita mati!
Sorry, kalau saya terlalu berapi – api ………………………………
KEEP FIGHT!
MERDEKA!
                                                                                                                                               SPEAK OUT
                                                                                                                                                       BLUTZ

ADA TEMBOK DI BALIK KELOM BATOK

Rayi Susprayitno Satyaperkasa-PROCESS CREATIVE


Hegarmanah 2010,
Sekali lagi saya ke tempat ini
Bertemu teman-teman seperjuangan, dari yang sudah berpengalaman pada tahun-tahun sebelumnya maupun pendatang baru yang siap menorehkan kuasnya
Bertemu dengan Pak RT sekeluarga
Warga setempat
Tembok-tembok yang menjulang tinggi
Tembok polos yang menunggu untuk di sentuh, karena iri dengan tembok-tembok lain yang kami mural tahun-tahun sebelumnya
Sejenak mengenang kejadian-kejadian tahun-tahun sebelumnya
Dari yang senang maupun yang sedih

Jum’at, Tanggal 30 Agustus 2010
Bangun kesiangan di kontarakan, sedikit pusing karena bergadang menemani teman–teman yang sedang mengerjakan spanduk acara MURAL 2010. Dan saya pun berangkat menuju tempat mural di bonceng oleh candra. Sesampainya di tempat mural, ternyata saya dan teman-teman sudah di tunggu oleh Bapak RT dan beberapa Staf Dinas daerah setempat di karenakan akan segera melakukan pembukaan MURAL 2010 di Hegarmanah. Sejenak saya mengenang kejadian tahun lalu dan tahun lalunya lagi, karena hari ini saya telah melakukan mural yang ketiga kalinya. Selintas teringat kenangan bersama teman-teman PROCESS angakatan pertama.
Setelah pembukaan MURAL 2010 dengan simbolis goresan pertama oleh pak RT dan Staf Dinas daerah setempat, sayapun mulai membuat sketsa gambar saya. Selama saya membuat sketsa, banyak anak kecil yang bertanya saya sedang apa. Dan sayapun menjawab kalau saya sedang menggambar. Berhubung saya mengerjakan sketsa menggunakan kapur tulis, banyak anak kecil yang ingin ikut menggambar. Dan sayapun memberikan beberapa kapur tulis kepada mereka dan memberikan sebagian bagian tembok saya untuk mereka gambar, toh nanti juga bisa di hapus lagi. Tepat pukul 5 sore sketsa saya selesai, dan kamipun pulang untuk beristirahat agar lebih bersemangat untuk keesokan harinya.
Minggu, Tanggal 1 Agustus
Saya bangun terlambat hari ini. Saya melihat jam dinding sudah menunjukan jam 8 lebih. Tanpa mandi sayapun berangakat menuju tempat mural. Diantar oleh Erik teman satu kontrakan saya, saya pun sampai ke tempat mural. Sesampai di sana, ternyata teman-teman sudah memulai pengerjaan gambar mereka. Sayapun memulai pengerjaan gambar saya. Saya memulai dengan mencampur cat untuk mengerjakan proses blocking untuk background.

Tak terasa saya memblocking background gambar saya sampai jam makan siang tiba. Sayapun memanggil teman-teman untuk beristirahat makan siang. Kamipun makan siang di rumah Pak RT, karena rumah Pak RT tepat di depan tembok yang sedang kami mural.

Selesai makan siang sayapun melanjutkan mengerjakan gambar saya. Tidak terlalu lama, blocking untuk background sayapun selesai juga. Sayapun melanjutkan pewarnaan pada kaki, karena pada gambar saya point of interestnya adalah gambar kaki yang sedang menginjak batok kelapa.  Sayapun mulai mencampur untuk warna kulit. Setelah selesai mewarnai kulit pada kaki, sayapun melanjutkan mewarnai kulit karakter pada gambar saya.

Tepat pukul 5 sore sayapun menghentikan kegiatan saya, karena sudah waktunya untuk pulang. Saya dan teman-teman segera membereskan cat dan kuas yang kami pergunakan tadi. Kami pun berpamitan kepada pak RT. Bersamaan dengan itu Om Dod datang. Kamipun berdiskusi sebelum pulang. Sebagian dari kami memutukan pulang terlebih dahulu, sedangkan saya dan beberapa teman tetap berdiskusi. Tak terasa sudah jam delapan malam, dan kamipun memutuskan untuk pulang. Karena saya tadi pagi berangkat diantar oleh teman, syapun pulang menggunakan angkutan kota. Saya pulang bersama teman saya yang bernama Putra “CUMIX”, karena arah kami sama menuju dago. Kamipun berhenti di Simpang Dago, dan sayapun memutuskan untuk minta jemput oleh teman saya karena ternyata angkutan kota yang menuju kontrakan saya sudah tidak ada lagi.

Senin, Tanggal 2 Agustus 2010

Saya terlambat bangun lagi hari ini karena saya tidur terlalu malam kemarin. Sayapun meminjam motor teman saya karena teman saya masih tidur dan tidak mungkin untuk memintanya mengantarkan saya lagi. Sesampainya di tempat mural, saya tidak langsung mengerjakan sisa pekerjaan saya kemarin tetapi mengambil segelas kopi hangat yag sudah disediakan Ibu RT tadi pagi. Saya menikmati kopi dan beberapa batang rokok untuk mengurangi rasa ngantuk saya karena terlambat bangun dan tidak sempat mandi.

Setelah menikmati segelas kopi, sayapun melajutkan pekerjaan saya kemarin. Seluruh bagian  kulit pada karakter saya sudah saya warnai dan karena warna kulit dan warna batok kelapa masih satu keluarga warna, maka sayapun menambahkan warna hitam pada campuran warna kulit saya agar mendapatkan warna coklat tua. Sayapun mulai mewarnai gambar batok kelapa dan tali pada batok kelapa tersebut.

Setelah saya selesai mewarnai batok dan tali, sayapun beralih untuk menambahkan tekstur pada gambar tali. Saya mulai mencampur cat warna batok dengan warna hitam sedikit agar menjadi lebih gelap dan muali menggoreskan outline pada gambar tali.

Selesai membuat outline pada tali, tepat jam 5 sore dan kamipun mualai bersiap-siap untuk pulang. Setelah membereskan cat dan menyimpanya di rumah Pak RT, kamipun segera pulang.

Selasa, Tanggal 3 Agustus 2010 
Hari ini sekali lagi saya bangun terlambat. Saya baru bangun tidur jam 9 pagi dan langsung berangkat menggunakan motor pinjaman milik teman saya. Sesampai di tempat mural, saya langsung menyimpan tas dan jaket saya di rumah Pak RT. Setelah saya menghabiskan segelas kopi dan sebatang rokok sebagai pengganti sarapan pagi, saya pun mengambil cat warna hitam dan kuas ukuran kecil untuk membuat outline dan warna rambut pada gambar saya.

Ternyata membuat outline pada gambar tidaklah semudah yang saya bayangkan. Mungkin karena perbedaan metode yang saya pakai pada tahun sebelumnya saya memakai ujung busa cuci piring sebagai pengganti kuas. Tapi sekarang saya menggunakan kuas yang berukuran kecil untuk membuat sebuah outline.

Waktu makan siang pun tiba. Saya dan teman-teman segera beristirahat dan menikmati makan siang. Setelah makan siang, saya memutuskan untuk beristirahat karena membuat outline sungguh melelahkan bagi saya. Dengan ditemani beberapa batang rokok, saya menghabiskan waktu istirahat saya. Terkadang saya menggoda tema-teman saya yang sedang mengerjakan gambar mereka.

Setelah saya beristirahat, sayapun melanjutkan pengoutlinenan pada gambar saya. tiba-tiba saja gerimis turun. Saya dan teman-teman pun mulai berteduh di rumah warga tapi masih ada juga teman yang melanjutkan gambarnya walaupun gerimis. Gerimis pun berubah menjadi hujan yang deras dan semua tema-teman akhirnya berteduh juga.

Cukup lama juga hujan yang mengguyur tempat mural kami. Tak terasa sudah jam 4 sore, dan hujanpun sudah berhenti. Kamipun mengecek gambar kami yang tadi terguyur hujan, dan hampir semua gambar kami catnya luntur temasuk outline saya yang tadi. Dan kamipun memutuskan untuk melanjutkan mural kami besok karena apabila dilanjutkan hari itu juga dikhawatirkan hujan akan turun lagi.

Rabu, Tanggal 4 Agustus 2010
Saya bangun pagi hari in. Saya bangun jam 6.30 pagi, dan sayapun bingung bagaimana saya bisa bangun sepagi ini. Padahal saya tidur cukup larut malam kemarin.

Sayapun berangkat memakai motor teman saya seperti hari-hari sebelumnya. Sesampainya di tempat mural, ternyata sudah ada teman saya yang bernama Arif “BOKEP” dan Ian “TARAJE” sedang menikmati kopi dan rokok mereka. Sayapun ikut bergabung untuk sarapan bersama.

Setelah sarapan kamipun segera melanjutkan mengerjakan gambar kami yang kemaren sempat tertunda oleh hujan dan sedikit luntur. Sedikit demi sedikit teman-teman mulai berdatangan. Sayapun segera membetulkan gambar saya yang terkena cat yang luntur kemarin. Saya harus menambal warna-warna tersebut karena yang luntur adalah outline karakter dari gambar saya.
Setelah memperbaiki bagian yang terkena lunturan cat, saya melanjutkan proses outline. Dan ternyata proses outline hari ini berjalan cepat tidak seperti hari sebelumnya. Akhirnya gambar sayapun selesai. Akantetapi saya merasa ada yang kurang dengan background dari gambar saya. Sayapun mencampur cat warna kuning dan biru untuk mendapatkan warna hijau untuk membuat efek rumput pada background gambar saya.

Saya menggunakan kuas cat tembok yang berukuran besar dan si cat hijau tersebut tidak saya gores melainkan ditotol. Saya buat alur efek rumput dari tengah ke samping, karena gambar yang jadi point of interest dari mural saya berada di tengah. Efek rumput yang saya berikan tidaklah hanya 1 lapis atau 1 layer, melainkan 5 layer. Dari warna hijau yang paling tua sampai hijau yang paling muda.

Akhirnya selesai juga finishing karya mural saya tahun ini. Tidak lama setelah saya finishing, ternyata hujan turun lagi dan lumayan sangat deras dan ada beberapa gambar teman-teman yang catnya luntur. Sambil menunggu hujan reda, kamipun saling bercana sebari beristirahat. Ternyata hujannya lumayan lama dan kamipun mulai bosan menunggu. Alhamdulillah ada warga yang memberikan es cendol kepada kami dan alhamdulillah lebih dari cukup untuk kami ber 20. Selain cendol, warga jga ska memberikan makanan kepada kami, seperti cireng ataupun pisang goreng.

Hujanpun akhirnya reda, akantetapi teman-teman sudah tidak bersemangat mengerjakan  gambarnya karena takut hujan datang lagi. Tiba-tiba handphone saya berdering dan ternyata teman saya yang ingin meliput acara kami sudah ada di depan gang tempat kami mengadakan mural. Dan sayapun mengenalkan teman saya yang bernama Teguh ”Sinyo” kepada GM kami Irvan “blutz”. Merekapun mengobrol dan sayapun kebagian tugas sebagai fotografer karena teman saya tidak membawa fotografer. Tidak lama kemudian Pak RT dan beberapa Staf Dinas setempat datang karena sudah diberitahu terlebih dahulu oleh GM kami. Setelah sesi wawancara selesai, kamipun berfoto bersama dan bersiap untuk pulang.

Jum’at, tanggal 6 Agustus 2010
Hari terakhir saya terlambat bangun lagi. Tetapi saya tidak terlalu terburu-buru karena karya saya sudah selesai. Saya memutuskan untuk berangkat ke tempat mural setelah Sholat Jum’at.

Setelah Sholat Jum’at sayapun diantar oleh teman saya karena motornya akan dipakai dan saya tidak bisa meminjamnya hari ini. Sesampainya ditempat, teman-teman banyak yang sudah mefinishing karya mereka. Akan tetapi ada 1 karya yang masih 50% lagi, yaitu karya Putra. Dia tidak dapat menyelesaikan karena dia tiba-tiba jatuh sakit. GM dan kami sepakat apabila yang karyanya sudah selesai, harap membantu penyelesaian dari karya putra.

Belum sampai 5 menit saya duduk di tempat istirahat, ada teman yang memberitahukan kepada saya “Ray, gambar lo kebaret ama motor. Kayaknya kena gas LPG”. Setelah saya cek ternyata benar dan cukup panjang si baret tersebut. Sayapun langsung menambal temok yang baret tersebut denga cat hijau sisa efek rumput yang saya pakai kemarin.

Diluar dugaan, karya Putra waktu pengerjaannya memakan waktu yang cukup lama. Dan keadaan yang gelap dan sedikit gerimis. Kamipun mengusahakan lampu neon untuk penerangan teman-teman yang membantu pengerjaan karya Putra. Dibantu oleh warga, kamipun mendapatkan lampu untuk menerangi teman-teman yang mengerjakan karya Putra. Akhirnya karya putra beres juga. Setelah itu teman-teman membereskan cat, lampu dan tangga, sedangkan saya mengantarkan Merlin ke Stasiun Kereta Api untuk plang menuju rumahnya di rancaekek.

Sepulang saya mengantar merlin, ternyata teman-teman sudah berdiskusi bersama Om Dod di rumah kontrakan yang disewa Om Dod. Kami berdiskusi banyak hal sampai tak terasa waktu sudah menunjukan jam 10 malam. Kamipun pulang dan saya terpaksa meminta jemput oleh teman saya karena angkot yang menuju kontrakan saya sudah habis.


Begitulah cerita singkat saya tentang mural saya tahun ini, sayapun berterimakasih kepada bapak/ibu RT yang berkenan menyediakan tempat buat kita dan selalu menyediakan kopi dan makanan kecil di pagi hari dan menyiapkan makan siang buat kita semua dan tidak lupa saya ucapkan terimakasih kepada warga yang sudah memberikan apresiasinya kepada
kita. Dan juga kepada Ibu Lurah dan Staf-staf dinas setempat yang telah memberikan kami lahan berekspresi. Semoga mural yang di lakukan Teman-teman process membawa efek yang positive buat warga setempat. Dan semoga saya beserta teman-teman yang ain masih bisa diberi kesempatan berMURALria pada tahun-tahun selanjutnya.

Terima kasih

-DRDLCK-