Kamis, 26 Agustus 2010

Berperang Selama Tujuh Hari di Gang Panji

Irfan Maulanasam-PROCESS CREATIVE 


“ terima kasih ya Allah atas badan yang sehat, hati yang tenang, dan pikiran yang dapat berpikir secara jernih”. setidaknya itulah rasa syukur yang terucap dalam hati ketika mural bisa terselesaikan pada waktunya.
    Hujan yang turun selama kurang lebih 4 hari berturut-turut sangat menghambat pekerjaan kami dalam melaksanakan mural, namun langkah kami tidak surur sampai disitu. niat dan tekad yang kuat untuk membuat satu gang menjadi lebih indah dan nyaman untuk dipandang membuat kami pantang menyerah hanya hanya karena cucuran air hujan. memang ada rasa lelah dan bosan selama menggambar di tembok, apalagiketika mendengar salah satu teman kami sudah selesai. rasa gusar langsung menghantui, namun semu itu bisa dilewati dalam waktu 7 setengah hari terakhir dalam pelaksanaan mural di gang tersebut.
    Tema yang saya pilih untuk mural kali ini ialah permainan rakyat yaitu perang-perangan memakai pelepah daun pisang. ya, itulah yang saya pilih ketika diajukan pertanyaan apa yang akan saya gambar. tak tahu kenapa saya lebih memilih permainan itu? mungkin karena pengalaman masa kecil saya yang selalu memainkan permainan tersebut bersama teman saya ketika masih kecil.masa kecil yang penuh dengan tawa. tawa anak-anak bocah desa ketika bermain dan bercengkrama yang mungkin takkan tergantikan oleh apapun. di waktu itu saya merasakan bagaimana rasanya hidup tanpa beban apapun yang harus dipikul ketika saya dewasa sekarang ini. menjadi anak kecil di masa itu ialah hal yang menyenangkan karena kegiatan kami sebagai anak kecil hanya darmaji (istilah bahasa sunda yang berasal dari singkatan dahar modol sare ulin yang artinya makan, buang air besar, tidur, dan main) yang selalu dibicarakan orangtua kami bila kami bermalas-malasan dan susah disuruh.
    Rasa syukur saya panjatkan kepada Allah.SWT karena dahulu ketika kecil bisa hidup di jaman dimana krisis moneter belum bergejolak seperti sekarang ini. dimana ketika itu belum ada cerita anak kecil umur 5 tahun tertabrak mobil di jalan raya karena lari dari kejaran trantib karena menjadi pengamen ataupun pengemis, ataupun ibu yang bunuh diri bersama anaknya karena himpitan ekonomi. bagi kami cerita tersebut hanya akan terjadi dalam dongeng belaka dan tidak mungkin terjadi ketika itu. namun, semuanya menjadi kenyataan di jaman sekarang. dahulu, kami tak pernah mendapati rumah yang didepannya ada tembok besar yang tinggi yang langsung menghalangi pandangan kami saat pagi hari yang menyebabkan sinar matahari tidak dapat langsung masuk lewat jendela sehingga kami bisa merasakan hangatnya saat kami bangun tidur. miris rasanya ketika melihat keadaan gang tersebut dibandingkan kenyataan yang kami alami di rumah dimana pagi hari kami bisa bangun pagi dengan melihat cerahnya pagi disertai rerumputan hijau dan pepohonan, kadang juga terdengar suara ayam berkokok dan suara burung-burung yang membangunkan tidur kami. mereka (masyarakat di gang panji) mungkin sudah bisaa bangun pagi dengan tidak melihat sinar mentari di depan jendela. malah ada yang menyebutkan kalau disana ialah negeri tanpa matahari karena rumah mereka tertutup oleh tembok tinggi persis di halaman rumah mereka sehingga matahari tidak langsung masuk ketika pagi telah menjelang.
    Jujur saja, tugas berat bagi kami untuk menggambar disana. selain karena media tembok yang tidak bisaa kami jumpai ketika kuliah karena bisasanya menggambar dilakukan di media kertas dan pensil atau alat gambar lainnya, juga karena jalan sempit yang harus dibagi ketika motor lewat atau ada pedagang yang bisaa berjualan di gang tersebut. juga karena apa yang kami gambar tidak bisa dimengerti oleh orang-orang disana. rasa waswas menghampiri kami ketika mulai membuat sketsa dengan kapur dan  perlahan menggoreskan kuas yang telah dicelupkan cat yang sudah kami racik ke lapak (istilah anak process untuk jatah tembok yang digambar). Dan mungkin rasa lega mulai saya rasakan ketika sekumpulan bocah datang menghampiri gambar saya. Mereka memperagakan dan mengomentari gambar saya, mereka bilang begini “tah ieu mah gambar peperangan nu make daun cau tea. Inget teu? (sambil menyenggol temannya) tuh kitu tuh maenkeuna tooo..rolok tooo..rolok tooo..rolok tooo..rolok (sambil memperagakan yang salah satu obyek yang saya gambar)”. Lalu kemudian ia berlari dan diikuti teman-temannya yang lain. Entah, mungkin karena ia malu atau takut dilihat oleh orang saat melakukan hal tersebut. Begitulah sepenggal cerita yang saya pribadi alami juga saya ingat karena kekhawatiran saya apabila masyarakat disana tidak bisa mengerti apa yang saya gambar tidak sepenuhnya benar. Selain dari kebanggan tersendiri bagi saya dan teman-teman karena telah mewarnai sebuah gang yang tadinya hanya berwarna abbu menjadi lebih berwarna sehingga mudah-mudahan bisa mempengaruhi bagi kondisi pisikis maupun psikologis masyarakat disana agar bisa lebih baik dari sebelumnya, amien…..
Tulisan selesai tanggal 23 Agustus 2010 jam : 13.33 wib

Tidak ada komentar:

Posting Komentar