Rabu, 11 Agustus 2010

BERMAIN KELERENG DI ATAS DINDING

Merlina F Nasruddin-PROCESS CREATIVE

(Bandung)- Mengutip kata – kata seorang penyair tentang motif berkarya, “Karena berpuisi adalah pilihan dalam berekspresi”, begitu juga apa yang saya dan kawan – kawan PROCESS CREATIVE lakukan tanggal 30 Agustus 2010 lalu di gang Panji, Hegarmanah, Bandung. Bisa dikatakan, karna mural adalah pilihan kami dalam berekspresi. Tentu saja bukan ekspresi yang cenderung sepihak, karna proyek mural ini pada dasarnya adalah kontribusi PROCESS CREATIVE untuk masyarakat. Kami menuangkan apa saja yang kami anggap bernilai, dan membagi rasa itu dengan masyarakat luas, tentunya lewat karya visual yang kami buat. Karna prosesnya terjun dan berbaur langsung dengan masyarakat, jadinya kami harus mengerti dulu, mural adalah pengalaman berkarya yang menuntut kepekaan sosial dan keterampilan mensinergikan interpretasi pribadi dengan selera masyarakat, berhubung terkadang hasil mural tidak sama persis dengan sketsa awal yang nantinya akan muncul kemungkinan multi interpretasi yang melenceng dari niat awal.

Dari tema kearifan lokal, saya mengambil permainan gundu sebagai produk lokal yang dimuralkan, mengingat gundu/kelereng atau poces/kaleci dalam bahasa Sunda, sudah jarang membudaya lagi dikalangan anak – anak kota maupun pinggiran. Tentu saja beban tugas menjadi lebih besar. Saya harus bisa, tidak hanya menarik minat masyarakat untuk menyimak mural yang saya buat, tapi juga memperkenalkan permainan gundu kepada anak – anak yang belum memainkannya. Atau lebih jauh lagi, membangkitkan kembali memori masyarakat akan asyiknya nilai – nilai kompetisi dalam permainan ini.

Untuk mencapai itu, saya menggambar banyak anak yang sedang memainkan gundu beserta gundu – gundu dalam banyak ukuran, seakan – akan anak – anak itu lah point of interestnya, supaya penikmat mural saya yang anak – anak jadi merasa terwakili. Ini lah bentuk interaksi unik, antara seniman mural dengan masyarakat, maupun karyanya dengan masyarakat.

Ditengah proses, muncul kecemasan, kalau hasil akan berbanding terbalik dengan yang diekspektasikan. Misalnya, saya malah akan menampilkan kesan bermain gundu yang menjemukan dan tidak esensial, hanya sekedar menyemarakkan dinding dengan gambar. Tapi saya bersyukur sekali, ada anak – anak  yang jadi saling bertanya satu sama lain dan jadi membahas permainan ini sambil ceria. Bahkan ada yang menamai satu persatu gambar anak dengan nama temannya. Yess, efek antusias begini yang saya butuhkan hwehe :D

Yang melegakan lagi, sambutan dari masyarakat gang Panji. Terimakasih banyak toleransinya, memberi kami keleluasaan di lapak yang langsung berhadapan dengan rumah penduduk, juga toleransinya memasukan aktivitas mural kami selama seminggu kedalam hirukpikuk keseharian mereka. Termasuk Bu Lurah (terima kasih suguhannya :D) dan dua rumah yang sudah menerima kami berteduh dari hujan, terima kasih banyak :D

Menjadi kepuasan bersama, ada mural kami di gang yang jalanya selebar satu rentangan tangan. Tidak  jarang disela – sela teknis mural, kami harus berhenti untuk menggeser, melipat tangga dan mendirikannya kembali untuk motor – motor yang lewat. Tapi semua terbayar. Kebanggaan menjadi seniman mural di gang Panji adalah menjadi bagian dari suatu lingkup masyarakat kecil yang harmonis satu sama lain. Ada kalanya, masyarakat kurang peka terhadap komunikasi visual yang dihadirkan dalam suatu gambar. Mereka cukup terpuaskan dengan menangkap hal – hal yang mudah mereka cerna saja. Misalnya, mengatai anak – anak botak dalam gambar sebagai tuyul, menangkap karakter monyetnya saja dalam sebuah alur gambar cerita lutung kasarung, dsb, tanpa tahu esensi – esensi apa saja yang disimpan pembuatnya dalam karya itu. Bukan keadaan yang salah, mungkin soal waktu saja, dan keinginan lebih untuk membuat karya yang mendidik,  lagi dan lagi. Setidaknya masyarakat tidak asing lagi dengan sebutan ‘’mural’. Berharap efeknya bisa membesar. Isu mural bisa sampai dari satu gang ke gang lain. Dan turis – turis akan datang, karna Bandung penuh dengan mural sebagai alasanya :)

5 komentar:

  1. keren uy tulisan na...
    ayo mari kita menulis..

    BalasHapus
  2. ya ampun yan.. kapan sih kita ga keren ?? :p wiieee! :D hhahahahah :D

    hayuu2! mari kita menulis..

    BalasHapus
  3. berkarya lalu menceritakan karya tersebut dalam sebuah tulisan adalah indah..
    -good job-

    BalasHapus