Diky Fajar-PROCESS CREATIVE
Perencanaan dan beragam ide untuk menggarap tembok yang berada di Gg. Panji, sebetulnya sudah terencana jauh – jauh hari sebelumnya, tema yang yang akan diangkat pun sudah ditentukan sebelumnya, namun terkadang rencana tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, banyak halangan yang membuat mural ketiga ini semakin di undur diantaranya jadwal kuliah, perijinan dari RT/ RW dan lainya. Namun itu tidak membuat surut semangat dari teman – teman Process untuk mewujudkan setiap sudut Gg di Bandung menjadi lebih berwarna.
Berawal dari sebuah seketsa di atas kertas yang bertema Cerita dan permainan rakyat Jawa barat Saya dan teman – teman Process berangkat dengan niat yang tulus membuat karya untuk masyarakat.
Hari pertama kami melakukan undian untuk memperoleh dinding yang kemudian akan kami gambar, meskipun pembagian tembok ini tidak di hadiri oleh seluruh teman – teman Process tetapi semua berjalan dengan lancar dan semuanya mendapatkan dinding yang akan di gambar. Ujian tidak hanya sampai disini setelah semua mendapatkan dinding masing – masing dan memulai sketsa, ada salah satu warga yang tidak setuju dinding di depan rumahnya kami gambar, kejadian itu sejenak membuat sebagian teman – teman yang lain berhenti membuat sketsa dan mencoba meluruskan masalah tersebut kepada ketua RT setempat. Akhirnya keputusan diperoleh secara mufakat dan sebagian dari teman – teman yang sudah memperoleh dinding harus berpindah ke dinding yang lain. Kejadian itu sekaligus memberikan pelajaran pada kami bahwa setiap orang mempunyai selera serta pemikiran yang berbeda dan mempunyai arti tentang keindahan masing – masing personal.
Proses mural ketiga ini direncanakan berjalan sekitar delapan hari karena ijin yang diberikan hanya dari tanggal 30 juli sampai dengan 6 agustus 2010. Berbeda dengan mural sebelumnya yang dilakukan tahun kemarin, mural kali ini saya mendapat banyak kesulitan baru di mulai dari dinding yang lebih tinggi dan lebar serta panas matahari yang menyengat lebih lama, dan kondisi Gg yang lebih sempit sehingga membuat jarak pandang menjadi lebih terbatas. Di hari ke enam kami kedatangan tamu yang tidak di sangka, dia adalah seorang wartawan media online yang tertarik dan ingin meliput kegiatan kami, itu memberikan kebanggaan tersendiri bagi saya dan teman – teman yang lain dan tentunya memberi semangat serta memotivasi kami untuk terus berkarya.
Disela istirahat saya beserta teman – teman mengisi waktu dengan canda, mengobrol dan saling memberi masukan tentang gambar yang sedang dibuat. Terkadang waktu istirahat menjadi begitu panjang karena hujan yang hampir setiap sore datang, hal itu membuat saya dan teman – teman yang lainya panik karena cat yang belum kering luntur terkena air hujan, serta banyak waktu yang terbuang karena hujan tersebut. Tetapi warga disana dengan senang hati memberikan semangat berupa camilan dan tempat untuk berteduh yang cukup memuat saya dan teman – teman beristirahat menunggu hujan reda.
Dihari terakhir saya dan teman – teman menyelesaikan mural sampai malam hari karena sebagian teman – teman ada yang belum selesai bahkan ada yang tidak dapat menyelesaikan gambarnya karena kondisinya yang kurang sehat, karena waktu yang di berikan hanya delapan hari maka di hari kedelapan kami semua bekerja sama menyelesaikan gambar terakhir bersama – sama, keadaan semakin sulit ketika kondisi semakin gelap dimalam hari. Seketika masalah terpecahkan ketika salah satu dari kami membawa lampu senter tetapi lampu senter itu hanya memberikan sedikit penerangan, kemudian tidak lama setelah itu sebagian dari teman kami datang membawa lampu neon panjang yang di pinjam dari warga tentunya hal itu sangat membantu dan akhirnya kami pun dapat menyelesaikan gambar tersebut, meskipun hasilnya mungkin tidak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh teman kami.
Tanggal 8 agustus 2010 menjadi hari penutupan untuk menutup kegiatan mural Process yang ketiga, acara disambut oleh RT, RW, Perwakilan dari hotel Seriti, dan ketua jurusan dari kampus DKV Unikom, meskipun beliau datang pagi dan tidak dapat ikut dalam acara penutupan tersebut tetapi kami sangat berterima kasih.
Meskipun lelah setelah kegitan selama delapan hari tanpa henti akan tetapi rasa lelah tersebut terobati ketika melihat ekspresi wajah masyarakat yang tersenyum dan menjadi cerita bagi anak - anak saat melihat gambar kami dan menanggapinya dengan positif, sangat berbeda ketika dinding itu masih kosong, orang - orang hanya lewat begitu saja, dinging tanpa ekspresi. Itu menjadi sebuah kebanggan dan kepuasan tersendiri karena karya yang saya buat dapat dinikmati oleh berbagai kalangan.
Berawal dari sebuah seketsa di atas kertas yang bertema Cerita dan permainan rakyat Jawa barat Saya dan teman – teman Process berangkat dengan niat yang tulus membuat karya untuk masyarakat.
Hari pertama kami melakukan undian untuk memperoleh dinding yang kemudian akan kami gambar, meskipun pembagian tembok ini tidak di hadiri oleh seluruh teman – teman Process tetapi semua berjalan dengan lancar dan semuanya mendapatkan dinding yang akan di gambar. Ujian tidak hanya sampai disini setelah semua mendapatkan dinding masing – masing dan memulai sketsa, ada salah satu warga yang tidak setuju dinding di depan rumahnya kami gambar, kejadian itu sejenak membuat sebagian teman – teman yang lain berhenti membuat sketsa dan mencoba meluruskan masalah tersebut kepada ketua RT setempat. Akhirnya keputusan diperoleh secara mufakat dan sebagian dari teman – teman yang sudah memperoleh dinding harus berpindah ke dinding yang lain. Kejadian itu sekaligus memberikan pelajaran pada kami bahwa setiap orang mempunyai selera serta pemikiran yang berbeda dan mempunyai arti tentang keindahan masing – masing personal.
Proses mural ketiga ini direncanakan berjalan sekitar delapan hari karena ijin yang diberikan hanya dari tanggal 30 juli sampai dengan 6 agustus 2010. Berbeda dengan mural sebelumnya yang dilakukan tahun kemarin, mural kali ini saya mendapat banyak kesulitan baru di mulai dari dinding yang lebih tinggi dan lebar serta panas matahari yang menyengat lebih lama, dan kondisi Gg yang lebih sempit sehingga membuat jarak pandang menjadi lebih terbatas. Di hari ke enam kami kedatangan tamu yang tidak di sangka, dia adalah seorang wartawan media online yang tertarik dan ingin meliput kegiatan kami, itu memberikan kebanggaan tersendiri bagi saya dan teman – teman yang lain dan tentunya memberi semangat serta memotivasi kami untuk terus berkarya.
Disela istirahat saya beserta teman – teman mengisi waktu dengan canda, mengobrol dan saling memberi masukan tentang gambar yang sedang dibuat. Terkadang waktu istirahat menjadi begitu panjang karena hujan yang hampir setiap sore datang, hal itu membuat saya dan teman – teman yang lainya panik karena cat yang belum kering luntur terkena air hujan, serta banyak waktu yang terbuang karena hujan tersebut. Tetapi warga disana dengan senang hati memberikan semangat berupa camilan dan tempat untuk berteduh yang cukup memuat saya dan teman – teman beristirahat menunggu hujan reda.
Dihari terakhir saya dan teman – teman menyelesaikan mural sampai malam hari karena sebagian teman – teman ada yang belum selesai bahkan ada yang tidak dapat menyelesaikan gambarnya karena kondisinya yang kurang sehat, karena waktu yang di berikan hanya delapan hari maka di hari kedelapan kami semua bekerja sama menyelesaikan gambar terakhir bersama – sama, keadaan semakin sulit ketika kondisi semakin gelap dimalam hari. Seketika masalah terpecahkan ketika salah satu dari kami membawa lampu senter tetapi lampu senter itu hanya memberikan sedikit penerangan, kemudian tidak lama setelah itu sebagian dari teman kami datang membawa lampu neon panjang yang di pinjam dari warga tentunya hal itu sangat membantu dan akhirnya kami pun dapat menyelesaikan gambar tersebut, meskipun hasilnya mungkin tidak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh teman kami.
Tanggal 8 agustus 2010 menjadi hari penutupan untuk menutup kegiatan mural Process yang ketiga, acara disambut oleh RT, RW, Perwakilan dari hotel Seriti, dan ketua jurusan dari kampus DKV Unikom, meskipun beliau datang pagi dan tidak dapat ikut dalam acara penutupan tersebut tetapi kami sangat berterima kasih.
Meskipun lelah setelah kegitan selama delapan hari tanpa henti akan tetapi rasa lelah tersebut terobati ketika melihat ekspresi wajah masyarakat yang tersenyum dan menjadi cerita bagi anak - anak saat melihat gambar kami dan menanggapinya dengan positif, sangat berbeda ketika dinding itu masih kosong, orang - orang hanya lewat begitu saja, dinging tanpa ekspresi. Itu menjadi sebuah kebanggan dan kepuasan tersendiri karena karya yang saya buat dapat dinikmati oleh berbagai kalangan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar