Senin, 01 November 2010

KAMI, "SEDANG INGIN BERPRESTASI ! "

“ Kita, Kita semua
adalah buah dari pohon yang sama,
dedaunan dari sebuah cabang,
bunga – bunga sari taman yang sama,
not – not dari halaman musik yang sama,
kord – kord dari lagu indah yang sama,
meski jari – jari ditanganku ada lima,
tentang tanganku, harus dikatakan
hanya ada satu saja”
konser Musikademia II, Gelora Bung Karno, 2001 (dalam Leksono 2004*)

Bayangkan seribu karya per satu orang kali seribu pegiat desain berada di atap yang sama, hilir mudik di kampus, fakultas, jurusan dan bidang yang sama, berkarya atas nama bidang yang sama, tapi tanpa sebuah pergerakan yang sama. Singkatnya itu saja analogi yang mewakili alasan betapa pentingnya sebuah kolektif yang memfasilitasi proses berkarya bagi setiap pegiatnya.
Kreativitas atau jabaran sederhananya beraktivitas kreatif, atau berkreasi, sudah tentu dilakukan per satu mahasiswa DKV perharinya hingga pertahunnya, entah itu modusnya tugas kuliah, pemantapan softskill untuk bekerja, money oriented, atau modus apapun. Cukupkah prestasi demikian?. Bayangkan untuk kedua kalinya, keberagaman aktivitas berkarya di bidang desain tanpa suatu pengikat berupa wadah yang mampu memberikan referensi, wawasan keilmuan desain dan ruang pengaplikasiannya, nilai dan kapasitas sebagai cikal bakal desainer yang siap berkecimpung di dunia masyarakat, wadah yang memfasilitasi itu semua.
Hadirnya PROCESS SCHOOL OF ILLUSTRATION sebagai komunitas yang dibentuk kolektif oleh mahasiswa fakultas desain UNIKOM cukup menjawab permasalahan tadi. Lahir sejak Oktober 2007, dilatarbelakangi dan dilandasi sebagai sebuah komunitas kreatif yang menghimpun mahasiswa untuk sharing dan membuka diskusi seputar perkembangan desain dikalangan institusi dan masyarakat. PROCESS sebagai wadah komunikasi diskusi visual memiliki peranan penting khususnya dalam praktik hasil desain yang ditujukan untuk kepentingan masyarakat luas. Jadi, PROCESS aktif mewadahi gagasan di bidang desain yang merangkul kepentingan masyarakat dan melibatkan para mahasiswa sebagai pemuda, roda penggerak pergerakan.

Mewadahi gagasan mahasiswa? Lalu apa bedanya dengan HIMA DKV UNIKOM?
Tentu saja berbeda. Salah satunya, HIMA dari, oleh, dan untuk mahasiswa, sedangkan PROCESS boleh jadi dari, dan oleh mahasiswa, tapi untuk publik, untuk masyarakat secara luas. Lebih jelasnya, PROCESS SCHOOL OF ILLUSTRATION merupakan proyek mandiri yang terlepas dari keterikatan organisasi dengan intansi kampus, fakultas, jurusan DKV, walaupun keberadaannya diketahui dan dibesarkan oleh birokrasi tadi. Berbeda dengan HIMA yang kita ketahui merupakan turunan kecil dari birokrasi fakultas dan jurusan DKV.

Apa saja yang sudah kami lakukan?
Kami mengaplikasikan semua keilmuan DKV yang didapat dari bangku kuliah  per mahasiswa dimasanya, kedalam karya yang universal dengan tema, media, dan waktu yang sama. Dibawah ini prestasi – prestasi yang sudah kami lalui bersama dari tahun terbentuknya, 2007 hingga 2009, dibawah kibar bendera PROCESS dan cukup mengharumkan nama almamater dan fakultas. 


 PROCESS SCHOOL OF ILLUSTRATION lahir dari kebutuhan bahwa untuk menjual atau merepresentasikan karya seni dan desain sebagai media atau pesan yang manfaatnya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat, tidak bisa dilakukan oleh satu orang saja, atau kelompok tanpa kapasitas jaringan yang memadai, atau kelompok dengan idealisme pribadi.
PROCESS seperti halnya komunitas lain, kebesaran dan keefektifan kontribusinya tentu membutuhkan banyak partisipan maupun apresiator yang mau berkolektif dan melakukan pergerakan di bidangnya (desain).  Motto kami saat ini : “SEDANG INGIN BERPRESTASI!” jadi, diskusi yang dibuka pun, bukan sekedar diskusi mengangkat wacana, menciptakan gagasan, tapi tanpa kelanjutan.  Dari manapun kalangan keilmuanya, periode akademiknya, siapapun yang memiliki visi dan misi yang sama dan mau bergerak bersama, dalam hal ini karya seni dan desain untuk masyarakat, PROCESS membuka diri untuk bekerjasama. Ayo Berkarya!

Lantas siapakah apresiator dan partisipan itu, perorangan mahasiswa DKV, atau hanya anggota resmi PROCESS saja?
Sejak berdirinya tahun 2007 hingga 2009, PROCESS telah berhasil melibatkan sejumlah nama- nama mahasiswa prestatif dalam event – event hingga sekaliber nasional, baik pengurus aktif maupun partisipan dari kalangan mahasiswa DKV UNIKOM. Ini sebuah prestasi. Artinya, PROCESS secara mandiri berhasil membuka celah baru bagi mahasiswa DKV untuk menambah kapasitas dirinya, berkarya dan berprestasi membawa nama baik komunitas dan almamater.

PROCESS SCHOOL OF ILLUSTRATION menjamin mau dan mampu, mewujudkan gagasan baru diruang lingkup kedesainan untuk masyarakat yang lebih baik.  Ayo gabung!

Jumat, 27 Agustus 2010

ADA MURAL, ADA SENANG ADA DUKA

Lisna Kusmyaty-PROCESS CREATIVE 
 
30 Juli 2010. Mural mural mural. Ini adalah waktunya aku bersama teman-teman process seangkatanku mural di gang Panji untuk kedua kalinya. Kalau untuk process ini tahun ketiga pocess mural dimana process selalu mengadakan mural setiap tahunnya sejak tahun 2008. Ada beberapa hal yang berbeda dari mural tahun ini dengan tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini mural bertema mural budaya yang mengangkat cerita rakyat dan permainan rakyat khususnya Jawa Barat. Dan untuk mural budaya ini aku mengangkat cerita Ciung Wanara. Sang pangeran terbuang yang gemar bermain adu ayam bersama ayam jago kesayangannya, hingga adu ayam ini membawanya kembali ke kerajaan. Tahun ini juga yang berbeda adanya  struktur organisasi yang dibentuk process demi terciptanya mural yang lebih baik dan terstruktur dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Oh iya, tahun ini juga ada acara pembukaannya dimana sedikit resmi yang diresmikan ibu camat di Hegarmanah dengan menggoreskan goresan pertamanya.
Peresmianpun selesai. Ini waktunya aku dan teman-temanku bekerja!
Sedikit menyedihkan hari ini , hari pertama sudah terjadi masalah. Ada salah satu warga yang tidak setuju dengan diadakannya mural di gang panji terutama tembok didepan rumah warga tersebut. Dan yang lebih menyedihkannya lagi tembok yang dipermasalahkan warga tersebut merupakan bagian tembokku. Setelah beberapa lama akhirnya aku pindah ke tembok yang lain, dan sekarang aku mulai bekerja tanpa harus membuang waktu lagi dan melupakan permasalahan yang tadi.
Setiap harinya semua berjalan dengan baik, tidak ada masalah yang dipermasalahkan lagi. Hanya saja keadaan cuaca yang kadang panas kadang hujan membuat kami sedikit khawatir dan kesal. Ada satu hal lagi yaitu ketinggian, ketinggian mural kali ini benar-benar menantangku. Sedikit takut dan gemetar saat berada di ketinggian sampai-sampai ada beberapa hasil goresan catku yang tidak rapi.
Akhirnya selesai sudah muralku ini., semua aku selesaikan dengan tepat waktu. Ada rasa tenang dan sedikit puas dengan hasilnya.Aku senang semua warga begitu antusias dengan mural ini terutama bagi anak-anak kecil di daerah gang panji. Ya, sedikit bernostalgia dengan ilustrasi dari cerita rakyat dan permainan rakyat bagi warga yang sudah berumur sambil mengenang masa-masa kecil dulu. Sedangkan untuk anak-anak kecilnya sedikit bisa tahu bahwa permainan rakyat kita lebih kaya walaupun sekarang sudah jarang terlihat lagi dan setidaknya anak-anak bisa melihat sebagian cerita rakyat yang sudah jarang diceritakan orang tuanya.
Untuk semuanya aku cukup puas dengan mural tahun ini. Semoga saja tahun depan aku dan teman-teman processku bisa kembali mengadakan mural lagi. Ya kita lihat saja nanti.
Pesanku kita cintai karya negeri kita ini dan jangan pernah melupakannya. SEMANGAT!
\(^_^)/

Kamis, 26 Agustus 2010

Berperang Selama Tujuh Hari di Gang Panji

Irfan Maulanasam-PROCESS CREATIVE 


“ terima kasih ya Allah atas badan yang sehat, hati yang tenang, dan pikiran yang dapat berpikir secara jernih”. setidaknya itulah rasa syukur yang terucap dalam hati ketika mural bisa terselesaikan pada waktunya.
    Hujan yang turun selama kurang lebih 4 hari berturut-turut sangat menghambat pekerjaan kami dalam melaksanakan mural, namun langkah kami tidak surur sampai disitu. niat dan tekad yang kuat untuk membuat satu gang menjadi lebih indah dan nyaman untuk dipandang membuat kami pantang menyerah hanya hanya karena cucuran air hujan. memang ada rasa lelah dan bosan selama menggambar di tembok, apalagiketika mendengar salah satu teman kami sudah selesai. rasa gusar langsung menghantui, namun semu itu bisa dilewati dalam waktu 7 setengah hari terakhir dalam pelaksanaan mural di gang tersebut.
    Tema yang saya pilih untuk mural kali ini ialah permainan rakyat yaitu perang-perangan memakai pelepah daun pisang. ya, itulah yang saya pilih ketika diajukan pertanyaan apa yang akan saya gambar. tak tahu kenapa saya lebih memilih permainan itu? mungkin karena pengalaman masa kecil saya yang selalu memainkan permainan tersebut bersama teman saya ketika masih kecil.masa kecil yang penuh dengan tawa. tawa anak-anak bocah desa ketika bermain dan bercengkrama yang mungkin takkan tergantikan oleh apapun. di waktu itu saya merasakan bagaimana rasanya hidup tanpa beban apapun yang harus dipikul ketika saya dewasa sekarang ini. menjadi anak kecil di masa itu ialah hal yang menyenangkan karena kegiatan kami sebagai anak kecil hanya darmaji (istilah bahasa sunda yang berasal dari singkatan dahar modol sare ulin yang artinya makan, buang air besar, tidur, dan main) yang selalu dibicarakan orangtua kami bila kami bermalas-malasan dan susah disuruh.
    Rasa syukur saya panjatkan kepada Allah.SWT karena dahulu ketika kecil bisa hidup di jaman dimana krisis moneter belum bergejolak seperti sekarang ini. dimana ketika itu belum ada cerita anak kecil umur 5 tahun tertabrak mobil di jalan raya karena lari dari kejaran trantib karena menjadi pengamen ataupun pengemis, ataupun ibu yang bunuh diri bersama anaknya karena himpitan ekonomi. bagi kami cerita tersebut hanya akan terjadi dalam dongeng belaka dan tidak mungkin terjadi ketika itu. namun, semuanya menjadi kenyataan di jaman sekarang. dahulu, kami tak pernah mendapati rumah yang didepannya ada tembok besar yang tinggi yang langsung menghalangi pandangan kami saat pagi hari yang menyebabkan sinar matahari tidak dapat langsung masuk lewat jendela sehingga kami bisa merasakan hangatnya saat kami bangun tidur. miris rasanya ketika melihat keadaan gang tersebut dibandingkan kenyataan yang kami alami di rumah dimana pagi hari kami bisa bangun pagi dengan melihat cerahnya pagi disertai rerumputan hijau dan pepohonan, kadang juga terdengar suara ayam berkokok dan suara burung-burung yang membangunkan tidur kami. mereka (masyarakat di gang panji) mungkin sudah bisaa bangun pagi dengan tidak melihat sinar mentari di depan jendela. malah ada yang menyebutkan kalau disana ialah negeri tanpa matahari karena rumah mereka tertutup oleh tembok tinggi persis di halaman rumah mereka sehingga matahari tidak langsung masuk ketika pagi telah menjelang.
    Jujur saja, tugas berat bagi kami untuk menggambar disana. selain karena media tembok yang tidak bisaa kami jumpai ketika kuliah karena bisasanya menggambar dilakukan di media kertas dan pensil atau alat gambar lainnya, juga karena jalan sempit yang harus dibagi ketika motor lewat atau ada pedagang yang bisaa berjualan di gang tersebut. juga karena apa yang kami gambar tidak bisa dimengerti oleh orang-orang disana. rasa waswas menghampiri kami ketika mulai membuat sketsa dengan kapur dan  perlahan menggoreskan kuas yang telah dicelupkan cat yang sudah kami racik ke lapak (istilah anak process untuk jatah tembok yang digambar). Dan mungkin rasa lega mulai saya rasakan ketika sekumpulan bocah datang menghampiri gambar saya. Mereka memperagakan dan mengomentari gambar saya, mereka bilang begini “tah ieu mah gambar peperangan nu make daun cau tea. Inget teu? (sambil menyenggol temannya) tuh kitu tuh maenkeuna tooo..rolok tooo..rolok tooo..rolok tooo..rolok (sambil memperagakan yang salah satu obyek yang saya gambar)”. Lalu kemudian ia berlari dan diikuti teman-temannya yang lain. Entah, mungkin karena ia malu atau takut dilihat oleh orang saat melakukan hal tersebut. Begitulah sepenggal cerita yang saya pribadi alami juga saya ingat karena kekhawatiran saya apabila masyarakat disana tidak bisa mengerti apa yang saya gambar tidak sepenuhnya benar. Selain dari kebanggan tersendiri bagi saya dan teman-teman karena telah mewarnai sebuah gang yang tadinya hanya berwarna abbu menjadi lebih berwarna sehingga mudah-mudahan bisa mempengaruhi bagi kondisi pisikis maupun psikologis masyarakat disana agar bisa lebih baik dari sebelumnya, amien…..
Tulisan selesai tanggal 23 Agustus 2010 jam : 13.33 wib

Rabu, 25 Agustus 2010

Malin Kundang

Windy L Pebriani-PROCESS CREATIVE 

 Berawal dari kata bijak yg pernah saya dengar yaitu Hanya orang takut yang bisa berani, karena keberanian adalah melakukan sesuatu yang ditakutinya. Kata-kata inilah yang memulai saya berani untuk melakukan kegiatan MURAL yang dilaksanakan PROCESS CREATIVE tanggal 30 July lalu di gang Panji Hegarmanah. Kata MURAL awalnya sangat asing ditelinga saya. Di Process Creative inilah saya mengenal apa itu namanya MURAL. MURAL merupakan suatu kegiatan dimana kita menggambar atau melukis diatas media dinding atau tembok.

Dari tema MURAL yang mengangkat mengenai kearifan lokal saya mengambil cerita mengenai Malin kundang. Sedikit melenceng dari tema yang di sarankan Pak dodi yaitu pembimbing kami di process. Seharusnya tema kearifan lokal harus dari daerah Jawa Barat dan saya mengambil tema dari daerah Sumatra Barat. Tapi itu bukan masalah, karena pada intinya kita menyampaikan kearifan budaya lokal sebagai sarana edukasi terhadap masyarakat.

Sedikit bercerita tentang pengalaman mural saya, hari pertama mural pun dilaksanakan. Dengan perasaan penuh takut saya bergegas menuju Hegarmanah yaitu tempat dimana mural dilaksanakan. Saat tiba di gang Panji anak-anak Process yang lain sudah berkumpul dengan sebuah koclokan di tangan, tujuannya anak-anak mau mengundi tempat dimana kita akan menggambar. Woo ternyata ga semua tembok yang diundi bagus. Ada 3 bagian tembok yang bertekstur kasar, saya menyebutnya tembok “korodok”. Ah mimpi buruk buat saya jika dapet tembok itu. Ketakutan pun begitu besar. Satu demi satu pengundian pun berlangsung. Ya dengan perasaan sedikit lega karena 2 tembok korodok sudah keluar. Tapi masih ada satu tembok korodok yang blum keluar. “Ya Tuhan ini pengalaman pertama mural saya, masa saya harus dapet tembok korodok”, itu gumam saya dalam hati. Dan giliran saya untuk mengundi pun tiba, dengan perasaan penuh takut dan was-was saya mengeluarkan kertas undian. Dan saat dibuka! Ahhh tidakk!! ZOONKK..!! saya mendapat tembok korodok. Tangan langsung gemeteran, perasaan ga karuan. Ya tapi mu gimana lagi, ini takdir, dan menurut saya ini takdir yang lumayan kejam.hhehe pikir saya waktu itu. Tapi dsini saya dituntut untuk lebih bekerja keras, jangan putus asa, karena semuanya belum dicoba.

Saya memulai sketsa gambar dengan kapur tulis, cobaan datang lagi sketsa ga bisa dibuat karena tembok korodok susah untuk di gambar dengan kapur tulis, hmmb yang ada kapurnya mala kayak diparut, mudah sekali abis. Akhirnya saya memulai semuanya tanpa sketsa, langsung mewarnai gambar dengan cat. Ya lumayan sulit karena tekstur tembok yang kasar membuat saya harus mewarnai berulang-ulang. Di tengah-tengah ngemural banyak anak-anak di sekitar gang Panji yang melihat saya menggambar, dan mereka tau bahwa yang saya gambar adalah cerita malin kundang . Yes!! :D Perasaan bahagia pun datang karena ini menandakan saya dapat menyampaikan bahwa itu cerita malin kundang. Dan sambil menggambar saya pun bercerita dengan anak-anak mengenai malin kundang yang durhaka pada ibunya, dan akhirnya dia dikutuk menjadi batu. Anak-anak merespon cerita saya, mereka bilang “berarti kita ga boleh durhaka ma mama,bisi di kutuk” :D ya kurang lebih seperti itu. Mungkin ini salah satu tujuan dari mural ini, yaitu memberikan edukasi terhadap masyarakat sekitar mengenai budaya kearifan lokal.

Hari demi hari berlalu dan saya semakin nyaman dengan tembok korodok yang saya gambar, ternyata tembok ini mudah untuk di gradasi warnanya karena tekstur tembok yang kasar yang mudah membuat cat menjadi satu kesatuan. Akhirnyaa ini lah yang dinamakan anugrah dalam musibah. Makasih Tuhan,, ..

Hari ketujuh pun datang, ini adalah hari terakhir ngemural. Dan gambar saya pun selesai di hari ini. Ya dengan perasaan sangat senang sekaligus bangga saya dapat menyelesaikan Mural ini.  terima kasih Tuhan ini merupakan pengalaman yang sangat berharga dan menyenangkan buat saya. Terima kasih juga kepada semua warga gang Panji yang telah menerima kami dengan baik. Semoga hasil kerja kami dapat bermanfaat dan menjadi kontribusi positif bagi masyarakat. amin

SANGKURIANG DI BALIK TEMBOK

Diky Fajar-PROCESS CREATIVE 

 Perencanaan dan beragam ide untuk menggarap tembok yang berada di Gg. Panji, sebetulnya sudah terencana jauh – jauh hari sebelumnya, tema yang yang akan diangkat pun sudah ditentukan sebelumnya, namun terkadang rencana tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, banyak halangan yang membuat mural ketiga ini semakin di undur diantaranya jadwal kuliah, perijinan dari RT/ RW dan lainya. Namun itu tidak membuat surut semangat dari teman – teman Process untuk  mewujudkan setiap sudut Gg di Bandung menjadi lebih berwarna.
Berawal dari sebuah seketsa di atas kertas yang bertema Cerita dan permainan rakyat Jawa barat Saya dan teman – teman Process berangkat dengan niat yang tulus membuat karya untuk masyarakat.
Hari pertama kami melakukan undian untuk memperoleh dinding yang kemudian akan kami gambar, meskipun pembagian tembok ini tidak di hadiri oleh seluruh teman – teman Process tetapi semua berjalan dengan lancar dan semuanya mendapatkan dinding yang akan di gambar. Ujian tidak hanya sampai disini setelah semua mendapatkan dinding masing – masing dan memulai sketsa, ada salah satu warga yang tidak setuju dinding di depan rumahnya kami gambar, kejadian itu sejenak membuat sebagian teman – teman yang lain berhenti membuat sketsa dan mencoba meluruskan masalah tersebut kepada ketua RT setempat. Akhirnya keputusan diperoleh secara mufakat  dan sebagian dari teman – teman yang sudah memperoleh dinding harus berpindah ke dinding yang lain. Kejadian itu sekaligus memberikan pelajaran pada kami bahwa setiap orang mempunyai selera serta pemikiran yang berbeda dan mempunyai arti tentang keindahan masing – masing personal.
Proses mural ketiga ini direncanakan berjalan sekitar delapan hari karena ijin yang diberikan hanya dari tanggal 30 juli sampai dengan 6 agustus 2010. Berbeda dengan mural sebelumnya yang dilakukan tahun kemarin, mural kali ini saya mendapat banyak kesulitan baru di mulai dari dinding yang lebih tinggi dan lebar serta panas matahari yang menyengat lebih lama, dan kondisi Gg yang lebih sempit sehingga membuat jarak pandang menjadi lebih terbatas. Di hari ke enam kami kedatangan tamu yang tidak di sangka, dia adalah seorang wartawan media online yang tertarik dan ingin meliput kegiatan kami, itu memberikan kebanggaan tersendiri bagi saya dan teman – teman yang lain dan tentunya memberi semangat serta memotivasi kami untuk terus berkarya.
Disela istirahat saya beserta teman – teman mengisi waktu dengan canda, mengobrol dan saling memberi masukan tentang gambar yang sedang dibuat. Terkadang waktu istirahat menjadi begitu panjang karena hujan yang hampir setiap sore datang, hal itu membuat saya dan teman – teman yang lainya panik karena cat yang belum kering luntur terkena air hujan, serta banyak waktu yang terbuang karena hujan tersebut. Tetapi warga disana dengan senang hati memberikan semangat berupa camilan dan tempat untuk berteduh yang cukup memuat saya dan teman – teman beristirahat menunggu hujan reda.
Dihari terakhir saya dan teman – teman menyelesaikan mural sampai malam hari karena sebagian teman – teman ada yang belum selesai bahkan ada yang tidak dapat menyelesaikan gambarnya karena kondisinya yang kurang sehat, karena waktu yang di berikan hanya delapan hari maka di hari kedelapan kami semua bekerja sama menyelesaikan gambar terakhir bersama – sama, keadaan semakin sulit ketika kondisi semakin gelap dimalam hari. Seketika masalah terpecahkan ketika salah satu dari kami membawa lampu senter tetapi lampu senter itu hanya memberikan sedikit penerangan, kemudian tidak lama setelah itu sebagian dari teman kami datang membawa lampu neon panjang yang di pinjam dari warga tentunya hal itu sangat membantu dan akhirnya kami pun dapat menyelesaikan gambar tersebut, meskipun hasilnya mungkin tidak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh teman kami.
Tanggal 8 agustus 2010 menjadi hari penutupan untuk menutup kegiatan mural Process yang ketiga, acara disambut oleh RT, RW, Perwakilan dari hotel Seriti, dan ketua jurusan dari kampus DKV Unikom, meskipun beliau datang pagi dan tidak dapat ikut dalam acara penutupan tersebut tetapi kami sangat berterima kasih.
Meskipun lelah setelah kegitan selama delapan hari tanpa henti akan tetapi rasa lelah tersebut terobati ketika melihat ekspresi wajah masyarakat yang  tersenyum dan menjadi cerita bagi anak - anak saat melihat gambar kami dan menanggapinya dengan positif, sangat berbeda ketika dinding itu masih kosong, orang - orang hanya lewat begitu saja, dinging tanpa ekspresi. Itu menjadi sebuah kebanggan dan kepuasan tersendiri karena karya yang saya buat dapat dinikmati oleh berbagai kalangan.

“RESISTENSI TEMBOK ABU – ABU “

 Irvan Mardiansah-PROCESS CREATIVE

Pada kesempatan kali ini saya akan kembali mengulas tentang latar belakang dari kegiatan mural yang sudah berjalan 3 tahun terakhir ini di Gg. Panji  Jl. Hegarmanah Bandung. Karena saya pikir kita harus kembali mengingat apa tujuan utama dari kegiatan mural yang kita lakukan ini supaya dapat di pertanggungjawabkan dan menjadi sesuatu yang berarti bagi kita seniman mural dan masyarakat pada umumnya. Trigger kegiatan “ Mural Budaya 2010 “ ini berangkat dari keprihatinan PROCESS terhadap kondisi anak – anak terutama yang berada didaerah perkotaan yang sudah melupakan bahkan tidak tahu dengan khasanah cerita / legenda dan permainan rakyat Jawa Barat pada khususnya. Anak – anak pada saat ini lebih mengenal hero dan heroine dari barat dan yang sedang happening sekarang cerita Upin & Ipin dari negara tetangga kita Malaysia, daripada cerita Lutung Kasarung misalnya. Terlebih lagi mereka sampai menduplikasi / mengadopsi hero dan heroine dari barat atau Upin & Ipin tersebut melalui t – shirt, accessories, dan sebagainya menjadi suatu gaya hidup kebendaan. Menyikapi hal tersebut kita sangat merasa sedih, kita seperti dipecundangi dan dilecehkan. Kita semakin masuk ke dalam hegemoni negara barat dan negara tetangga Malaysia, terlebih lagi mengingat kejadian beberapa saat kebelakang. Malaysia melalui Truly Asia – nya telah mengakui beberapa khasanah budaya kita menjadi bagian dari negaranya.  Dengan alibi karena mereka satu rumpun dengan kita, jadi mereka merasa kebudayaan yang kita miliki adalah bagian dari kebudayaan mereka juga. Hal tersebut menjadi deret panjang kesewenang wenangan mereka yang semakin merobek harga diri Negara kita.
Melalui hal kecil yang kita lakukan ini, mudah – mudahan bisa menjadi suatu resistensi dari penjajahan dalam bentuk kebudayaan. Walau dalam pelaksanaannya kita rasakan tidak mudah, karena kita harus melewati berbagai hambatan dan hinaan, tetapi hal tersebut tidak menyurutkan tekad kita untuk terus bergerak. Terus merangsak masuk dari gang ke gang untuk menumpahkan cat ke dinding – dinding  tinggi yang menjadi penanda dari keangkuhan, ketidakramahan dan perampasan akan hak – hak ( hak mendapatkan cahaya matahari ). Ya! Kita akan meruntuhkan dan membungkam keangkuhan tersebut dengan karya kita. Terus bergerak dari mulai sekarang dan seterusnya, sebelum terlambat dan tercuri lagi! ( saya yakin mereka akan mencuri lagi!).
Kalau semua orang menyadari akan output positif dari kegiatan ini, saya yakin tidak akan ada yang kontra terhadap kegiatan ini, seperti yang telah kita alami di hari pertama mural. Sikap kontra yang lahir dari kearoganan dan sentimen pribadi. Selain itu saya yakin teman – teman mahasiswa lainnya akan banyak yang bergabung dan melakukan hal yang serupa, daripada membuang waktu percuma di masa  - masa liburan seperti saat ini. Satu hal lagi, saya yakin teman – teman seniman mural yang terlibat pada “ Mural Budaya 2010 “ akan selalu ingat dengan kegiatan tersebut dan akan selalu ikut serta di tahun – tahun berikutnya, untuk sesuatu yang berarti sebelum kita mati!
Sorry, kalau saya terlalu berapi – api ………………………………
KEEP FIGHT!
MERDEKA!
                                                                                                                                               SPEAK OUT
                                                                                                                                                       BLUTZ

ADA TEMBOK DI BALIK KELOM BATOK

Rayi Susprayitno Satyaperkasa-PROCESS CREATIVE


Hegarmanah 2010,
Sekali lagi saya ke tempat ini
Bertemu teman-teman seperjuangan, dari yang sudah berpengalaman pada tahun-tahun sebelumnya maupun pendatang baru yang siap menorehkan kuasnya
Bertemu dengan Pak RT sekeluarga
Warga setempat
Tembok-tembok yang menjulang tinggi
Tembok polos yang menunggu untuk di sentuh, karena iri dengan tembok-tembok lain yang kami mural tahun-tahun sebelumnya
Sejenak mengenang kejadian-kejadian tahun-tahun sebelumnya
Dari yang senang maupun yang sedih

Jum’at, Tanggal 30 Agustus 2010
Bangun kesiangan di kontarakan, sedikit pusing karena bergadang menemani teman–teman yang sedang mengerjakan spanduk acara MURAL 2010. Dan saya pun berangkat menuju tempat mural di bonceng oleh candra. Sesampainya di tempat mural, ternyata saya dan teman-teman sudah di tunggu oleh Bapak RT dan beberapa Staf Dinas daerah setempat di karenakan akan segera melakukan pembukaan MURAL 2010 di Hegarmanah. Sejenak saya mengenang kejadian tahun lalu dan tahun lalunya lagi, karena hari ini saya telah melakukan mural yang ketiga kalinya. Selintas teringat kenangan bersama teman-teman PROCESS angakatan pertama.
Setelah pembukaan MURAL 2010 dengan simbolis goresan pertama oleh pak RT dan Staf Dinas daerah setempat, sayapun mulai membuat sketsa gambar saya. Selama saya membuat sketsa, banyak anak kecil yang bertanya saya sedang apa. Dan sayapun menjawab kalau saya sedang menggambar. Berhubung saya mengerjakan sketsa menggunakan kapur tulis, banyak anak kecil yang ingin ikut menggambar. Dan sayapun memberikan beberapa kapur tulis kepada mereka dan memberikan sebagian bagian tembok saya untuk mereka gambar, toh nanti juga bisa di hapus lagi. Tepat pukul 5 sore sketsa saya selesai, dan kamipun pulang untuk beristirahat agar lebih bersemangat untuk keesokan harinya.
Minggu, Tanggal 1 Agustus
Saya bangun terlambat hari ini. Saya melihat jam dinding sudah menunjukan jam 8 lebih. Tanpa mandi sayapun berangakat menuju tempat mural. Diantar oleh Erik teman satu kontrakan saya, saya pun sampai ke tempat mural. Sesampai di sana, ternyata teman-teman sudah memulai pengerjaan gambar mereka. Sayapun memulai pengerjaan gambar saya. Saya memulai dengan mencampur cat untuk mengerjakan proses blocking untuk background.

Tak terasa saya memblocking background gambar saya sampai jam makan siang tiba. Sayapun memanggil teman-teman untuk beristirahat makan siang. Kamipun makan siang di rumah Pak RT, karena rumah Pak RT tepat di depan tembok yang sedang kami mural.

Selesai makan siang sayapun melanjutkan mengerjakan gambar saya. Tidak terlalu lama, blocking untuk background sayapun selesai juga. Sayapun melanjutkan pewarnaan pada kaki, karena pada gambar saya point of interestnya adalah gambar kaki yang sedang menginjak batok kelapa.  Sayapun mulai mencampur untuk warna kulit. Setelah selesai mewarnai kulit pada kaki, sayapun melanjutkan mewarnai kulit karakter pada gambar saya.

Tepat pukul 5 sore sayapun menghentikan kegiatan saya, karena sudah waktunya untuk pulang. Saya dan teman-teman segera membereskan cat dan kuas yang kami pergunakan tadi. Kami pun berpamitan kepada pak RT. Bersamaan dengan itu Om Dod datang. Kamipun berdiskusi sebelum pulang. Sebagian dari kami memutukan pulang terlebih dahulu, sedangkan saya dan beberapa teman tetap berdiskusi. Tak terasa sudah jam delapan malam, dan kamipun memutuskan untuk pulang. Karena saya tadi pagi berangkat diantar oleh teman, syapun pulang menggunakan angkutan kota. Saya pulang bersama teman saya yang bernama Putra “CUMIX”, karena arah kami sama menuju dago. Kamipun berhenti di Simpang Dago, dan sayapun memutuskan untuk minta jemput oleh teman saya karena ternyata angkutan kota yang menuju kontrakan saya sudah tidak ada lagi.

Senin, Tanggal 2 Agustus 2010

Saya terlambat bangun lagi hari ini karena saya tidur terlalu malam kemarin. Sayapun meminjam motor teman saya karena teman saya masih tidur dan tidak mungkin untuk memintanya mengantarkan saya lagi. Sesampainya di tempat mural, saya tidak langsung mengerjakan sisa pekerjaan saya kemarin tetapi mengambil segelas kopi hangat yag sudah disediakan Ibu RT tadi pagi. Saya menikmati kopi dan beberapa batang rokok untuk mengurangi rasa ngantuk saya karena terlambat bangun dan tidak sempat mandi.

Setelah menikmati segelas kopi, sayapun melajutkan pekerjaan saya kemarin. Seluruh bagian  kulit pada karakter saya sudah saya warnai dan karena warna kulit dan warna batok kelapa masih satu keluarga warna, maka sayapun menambahkan warna hitam pada campuran warna kulit saya agar mendapatkan warna coklat tua. Sayapun mulai mewarnai gambar batok kelapa dan tali pada batok kelapa tersebut.

Setelah saya selesai mewarnai batok dan tali, sayapun beralih untuk menambahkan tekstur pada gambar tali. Saya mulai mencampur cat warna batok dengan warna hitam sedikit agar menjadi lebih gelap dan muali menggoreskan outline pada gambar tali.

Selesai membuat outline pada tali, tepat jam 5 sore dan kamipun mualai bersiap-siap untuk pulang. Setelah membereskan cat dan menyimpanya di rumah Pak RT, kamipun segera pulang.

Selasa, Tanggal 3 Agustus 2010 
Hari ini sekali lagi saya bangun terlambat. Saya baru bangun tidur jam 9 pagi dan langsung berangkat menggunakan motor pinjaman milik teman saya. Sesampai di tempat mural, saya langsung menyimpan tas dan jaket saya di rumah Pak RT. Setelah saya menghabiskan segelas kopi dan sebatang rokok sebagai pengganti sarapan pagi, saya pun mengambil cat warna hitam dan kuas ukuran kecil untuk membuat outline dan warna rambut pada gambar saya.

Ternyata membuat outline pada gambar tidaklah semudah yang saya bayangkan. Mungkin karena perbedaan metode yang saya pakai pada tahun sebelumnya saya memakai ujung busa cuci piring sebagai pengganti kuas. Tapi sekarang saya menggunakan kuas yang berukuran kecil untuk membuat sebuah outline.

Waktu makan siang pun tiba. Saya dan teman-teman segera beristirahat dan menikmati makan siang. Setelah makan siang, saya memutuskan untuk beristirahat karena membuat outline sungguh melelahkan bagi saya. Dengan ditemani beberapa batang rokok, saya menghabiskan waktu istirahat saya. Terkadang saya menggoda tema-teman saya yang sedang mengerjakan gambar mereka.

Setelah saya beristirahat, sayapun melanjutkan pengoutlinenan pada gambar saya. tiba-tiba saja gerimis turun. Saya dan teman-teman pun mulai berteduh di rumah warga tapi masih ada juga teman yang melanjutkan gambarnya walaupun gerimis. Gerimis pun berubah menjadi hujan yang deras dan semua tema-teman akhirnya berteduh juga.

Cukup lama juga hujan yang mengguyur tempat mural kami. Tak terasa sudah jam 4 sore, dan hujanpun sudah berhenti. Kamipun mengecek gambar kami yang tadi terguyur hujan, dan hampir semua gambar kami catnya luntur temasuk outline saya yang tadi. Dan kamipun memutuskan untuk melanjutkan mural kami besok karena apabila dilanjutkan hari itu juga dikhawatirkan hujan akan turun lagi.

Rabu, Tanggal 4 Agustus 2010
Saya bangun pagi hari in. Saya bangun jam 6.30 pagi, dan sayapun bingung bagaimana saya bisa bangun sepagi ini. Padahal saya tidur cukup larut malam kemarin.

Sayapun berangkat memakai motor teman saya seperti hari-hari sebelumnya. Sesampainya di tempat mural, ternyata sudah ada teman saya yang bernama Arif “BOKEP” dan Ian “TARAJE” sedang menikmati kopi dan rokok mereka. Sayapun ikut bergabung untuk sarapan bersama.

Setelah sarapan kamipun segera melanjutkan mengerjakan gambar kami yang kemaren sempat tertunda oleh hujan dan sedikit luntur. Sedikit demi sedikit teman-teman mulai berdatangan. Sayapun segera membetulkan gambar saya yang terkena cat yang luntur kemarin. Saya harus menambal warna-warna tersebut karena yang luntur adalah outline karakter dari gambar saya.
Setelah memperbaiki bagian yang terkena lunturan cat, saya melanjutkan proses outline. Dan ternyata proses outline hari ini berjalan cepat tidak seperti hari sebelumnya. Akhirnya gambar sayapun selesai. Akantetapi saya merasa ada yang kurang dengan background dari gambar saya. Sayapun mencampur cat warna kuning dan biru untuk mendapatkan warna hijau untuk membuat efek rumput pada background gambar saya.

Saya menggunakan kuas cat tembok yang berukuran besar dan si cat hijau tersebut tidak saya gores melainkan ditotol. Saya buat alur efek rumput dari tengah ke samping, karena gambar yang jadi point of interest dari mural saya berada di tengah. Efek rumput yang saya berikan tidaklah hanya 1 lapis atau 1 layer, melainkan 5 layer. Dari warna hijau yang paling tua sampai hijau yang paling muda.

Akhirnya selesai juga finishing karya mural saya tahun ini. Tidak lama setelah saya finishing, ternyata hujan turun lagi dan lumayan sangat deras dan ada beberapa gambar teman-teman yang catnya luntur. Sambil menunggu hujan reda, kamipun saling bercana sebari beristirahat. Ternyata hujannya lumayan lama dan kamipun mulai bosan menunggu. Alhamdulillah ada warga yang memberikan es cendol kepada kami dan alhamdulillah lebih dari cukup untuk kami ber 20. Selain cendol, warga jga ska memberikan makanan kepada kami, seperti cireng ataupun pisang goreng.

Hujanpun akhirnya reda, akantetapi teman-teman sudah tidak bersemangat mengerjakan  gambarnya karena takut hujan datang lagi. Tiba-tiba handphone saya berdering dan ternyata teman saya yang ingin meliput acara kami sudah ada di depan gang tempat kami mengadakan mural. Dan sayapun mengenalkan teman saya yang bernama Teguh ”Sinyo” kepada GM kami Irvan “blutz”. Merekapun mengobrol dan sayapun kebagian tugas sebagai fotografer karena teman saya tidak membawa fotografer. Tidak lama kemudian Pak RT dan beberapa Staf Dinas setempat datang karena sudah diberitahu terlebih dahulu oleh GM kami. Setelah sesi wawancara selesai, kamipun berfoto bersama dan bersiap untuk pulang.

Jum’at, tanggal 6 Agustus 2010
Hari terakhir saya terlambat bangun lagi. Tetapi saya tidak terlalu terburu-buru karena karya saya sudah selesai. Saya memutuskan untuk berangkat ke tempat mural setelah Sholat Jum’at.

Setelah Sholat Jum’at sayapun diantar oleh teman saya karena motornya akan dipakai dan saya tidak bisa meminjamnya hari ini. Sesampainya ditempat, teman-teman banyak yang sudah mefinishing karya mereka. Akan tetapi ada 1 karya yang masih 50% lagi, yaitu karya Putra. Dia tidak dapat menyelesaikan karena dia tiba-tiba jatuh sakit. GM dan kami sepakat apabila yang karyanya sudah selesai, harap membantu penyelesaian dari karya putra.

Belum sampai 5 menit saya duduk di tempat istirahat, ada teman yang memberitahukan kepada saya “Ray, gambar lo kebaret ama motor. Kayaknya kena gas LPG”. Setelah saya cek ternyata benar dan cukup panjang si baret tersebut. Sayapun langsung menambal temok yang baret tersebut denga cat hijau sisa efek rumput yang saya pakai kemarin.

Diluar dugaan, karya Putra waktu pengerjaannya memakan waktu yang cukup lama. Dan keadaan yang gelap dan sedikit gerimis. Kamipun mengusahakan lampu neon untuk penerangan teman-teman yang membantu pengerjaan karya Putra. Dibantu oleh warga, kamipun mendapatkan lampu untuk menerangi teman-teman yang mengerjakan karya Putra. Akhirnya karya putra beres juga. Setelah itu teman-teman membereskan cat, lampu dan tangga, sedangkan saya mengantarkan Merlin ke Stasiun Kereta Api untuk plang menuju rumahnya di rancaekek.

Sepulang saya mengantar merlin, ternyata teman-teman sudah berdiskusi bersama Om Dod di rumah kontrakan yang disewa Om Dod. Kami berdiskusi banyak hal sampai tak terasa waktu sudah menunjukan jam 10 malam. Kamipun pulang dan saya terpaksa meminta jemput oleh teman saya karena angkot yang menuju kontrakan saya sudah habis.


Begitulah cerita singkat saya tentang mural saya tahun ini, sayapun berterimakasih kepada bapak/ibu RT yang berkenan menyediakan tempat buat kita dan selalu menyediakan kopi dan makanan kecil di pagi hari dan menyiapkan makan siang buat kita semua dan tidak lupa saya ucapkan terimakasih kepada warga yang sudah memberikan apresiasinya kepada
kita. Dan juga kepada Ibu Lurah dan Staf-staf dinas setempat yang telah memberikan kami lahan berekspresi. Semoga mural yang di lakukan Teman-teman process membawa efek yang positive buat warga setempat. Dan semoga saya beserta teman-teman yang ain masih bisa diberi kesempatan berMURALria pada tahun-tahun selanjutnya.

Terima kasih

-DRDLCK-

Minggu, 22 Agustus 2010

LUTUNG KASARUNG

Ian Permana-PROCESS CREATIVE


Bandung, di jalan Hegarmanah Gg panji Rt/Rw 03/03 adalah tempat dimana kita diberi kesempatan untuk berkarya.Mungkin karya yang kita buat ini bukan bukan karya yang biasa khususnya buat saya pribadi. Karya yang akan kita buat itu adalah mural.Kita tau sendiri media mural itu adalah dingding/tembok yang ukuranya pasti lebih besar dari kertas atau kanvas, ok lah mungkin hanya 5x3 m atau lebih ukuran nya, tapi yang membuat kita penting dalam mural kali ini ialah sebuah misi."emang apa sih misinya?" misi mural kita kali ini adalah mengangkat Khasanah cerita dan permainan jawa barat, bukan hanya mengangkat, tapi menerapkan/memperkenalkan kembali kebudayan-kebudayaan yang mungkin telah tersisihkan/terlupakan oleh zaman modernisasi.

Baiklah sebelum saya bercerita tentang proses muralkali ini, perkenalkan nama saya IAN PERMANA salah satu mahasiswa universitas di kota bandung. tema mural yang saya ambil adalah cerita rakyat jawa barat LUTUNG KASARUNG. Di awali dengan proses sketsa yang memerlukan waktu cukup lama membuat saya kebingungan, bayangkan saja sebuah cerita rakyat harus saya ilustrasikan pada satu frame itu membuat saya harus beberapakali membaca ceritanya. setelah proses sketsa jadi sayapun harus bekerja keras untuk bersiap
siap memindahkan ilistrasinya kedalam satu bidang tembok yang sudah ditentukan. hari pertama saya hanya melakukan pemindahan sketsa kedalam tembok menggunakan kapur, pemindahan seketsapun cukup berat bagi saya karna belum terbiasa dengan media yang sangat luas. ada beberapa teman saya pada hari pertama sudah melakukan pada tahap pewarnaan itu merupakan ujian mental bagi saya pribadi karna mereka sudah melakukan pada tahap pewarnaan sedangkan saya hanya baru sketsa kapur saja.

hari kedua saya sudah mulai pada tahap pemberian outline tahap pertama menggunakan cat warna hitam. pada hari kedua ini saya mulai terbiasa dengan ukuran tembok yang saya gambar walaupun harus naik turun tembok warga yang tingginya sekitar satu meter untuk menyelesaikan bagian atas. mungkin teman teman saya berebutan tangga untuk mencapai bagian atas karna tidak ada tembok yang bisa dinaikin.

hari ketiga, saya mulai meracik warna kulit membutuhkan waktu yang lumayan lama untuk mendapatkan warna kulit yang saya inginkan. sayapun dibantu oleh teman teman saya untuk meracik warna tersebut. setelah mendapatkan warna tersebut saya langsung melakukan tahap pewarnaan/coloring di tengah jalan ujian pun datang dengangan cuaca panas membuat saya dan teman teman harus berhenti sejenak. pada hari ketiga saya hanya melakukan pewarnaan kulit saja.

hari keempat saya mulai meracik warna rambut, hari itu pun sangat berat karna cuaca panas yang kurang bersahabat membuat saya dan teman teman selalu berhenti untuk mendinginkan kepala. disala sela menggambar pun kita selalu bercanda, apalagi kalu ada anak kecil yang bernama aril dengan sepedah mini nya selalu memberikan julukan kepada kita, kebetulan saya dijuluki "om penjahat"...ahahahaha

hari kelima saya mulai menambahkan warna warna yang belum beres dan beberapa detail, hari itupun di uji dengan cuaca yang kurang bersahabat, kali ini bukan panas yang menyengat tapi hujan kecil yang membuat kita harus berdiam cukup lama. ada beberapa gambar teman teman saya yang luntur karna hujan, terkadang hal itu membuat semangat mereka jd turun. 

hari keenam saya sudah menyelesaikan 60%, pada hari keenam saya melakukan pengisian background dan lain lainnya. stok cat pun sudah mulai berkurang banyak mengakibatkan ada beberapa pencurian cat..hhohoho... pada hari keenampun tidak luput dari hujan membuat gambar teman teman pun menjadi luntur kembali.

hari ketujuh saya mulai melakukan finising dengan memberikan outline
dan detai, dan kemudian beres 100%.

itulah cerita singkat saya, sayapun berterimakasih kepada bapak/ibu RT yang berkenan menyediakan tempat buat kita dan selalu menyediakan kopi dan makanan kecil di pagihari dan menyiapkan makan siang buat kita semua dan tidak lupa saya ucapkan terimakasih kepada warga yang sudah memberikan apresiasinya kepada
kita. semoga mural yang di lakukan rekan rekan process membawa efek yang positive buat warga setempat. terima kasih

Kamis, 19 Agustus 2010

SEPEKAN BERSAMA AJI SAKA

Lutfi Al Hadi-PROCESS CREATIVE    

                                                  
 "Saya teringat akan masa kecil saya yang suka corat-coret di tembok rumah, tapi orang tua saya tidak pernah melarang saya"                                                                                                                                  
Sabtu, 31 Juni 2010. Saya bangun jam 08.30, saya kaget karena pasti terlambat, karena hari ini adalah hari pertama saya mengikuti Mural Budaya 2010 di Gg. Panji Hegarmanah. Ketika saya datang di lokasi, di sana sudah ada beberapa teman saya. Saya lihat mereka sedang meneruskan pekerjaannya yang sudah mereka mulai dari kemarin. Saya belum melakukan apa-apa karena saya kan kemarin tidak datang. Seperti biasa, saya selalu bingung harus mulai dari mana, seperti biasa saya selalu kebanyakan melamun, dan seperti biasa saya mengantuk. Sebenarnya saya tidak tahu apa yang sedang saya lamunkan. Kadang saya memikirkan uang jajan saya, nilai IPK saya, dan lain-lain yang sebagian diantaranya sudah bertahun-tahun mengganggu pikiran saya.Tapi, sedang enak-enaknya melamun, saya teringat akan masa kecil saya yang suka corat-coret di tembok rumah, tapi orang tua saya tidak pernah melarang saya. Bahakan Babeh (panggilan ayah saya) bilang pada teman kerjanya kalau coretan yang ada di tembok ruang tamu itu adalah lukisan. Saya terus menikmati melamun itu sambil minum kopi dan menghisap rokok. Sambil mengantuk, pelan-pelan saya menyusun sketsa di tembok gang yang sudah di sediakan, tentunya kopi dan rokok masih menemani saya karena waktu itu masih jam 10.00 pagi. Mantap sudah, setelah saya rasa sketsanya tidak ada masalah, saya bermaksud mewarnai gambar yang sudah dibuat. Tapi, sekitar tiga kali bolak-balik mengambil beberapa warna cat yang berbeda, eh, ternyata itu adalah olah raga, karena saya harus mendaki anak tangga yang banyak untuk mengambil cat. Belum satu jam saya sudah lelah. Aduh Gusti, ini akan lebih melelahkan dari tahun kemarin. Hal seperti ini bisa saja membuat saya kesal sewaktu-waktu. Karena jika saya lelah, saya tidak mau banyak bicara atau bercanda, sedangkan kepala saya terus perpikir dan melamun. Tapi, sebenarnya saya suka dengan kegiatan seperti ini. Ini memaksa pikiran dan otot-otot saya untuk terus bergerak dan melupakan baban pikiran saya. Seandainya saja pekerjaan ini bisa lebih lama lagi.bukan hanya 1 minggu. Tembok tinggi, gang yang sempit dan cuaca tidak menentu menjadi tantangan baru saya. Rasa-rasanya itu lumayan efektif untuk menghilangkan rasa jenuh saya. Oks lah… Bismillaahi Tawakaltu Alallah, Laahaula Walaaquwataa Illaabillaah….
Minggu, 1 Agustus 2010. Seperti biasa, saya kesiangan. Tapi hari ini saya ada teman, siapa lagi kalau bukan Bef (dia teman satu kelas saya yang masih bisa saya temui di kampus setidaknya sampai tahun depan). Dan seperti biasa saya tidak mandi pagi, karena menurut saya itu dingin sekali. Karena hari ini adalah hari minggu, jadi banyak anak-anak yang melihat dan banyak orang yang lewat gang tempat saya menggambar. Bapak-apak, Ibu-ibu, anak-anak, pegawai hotel, cewek seksi yang sering sekali lewat situ, tukang baso tahu, tukang es krim dll.Itu cukup mengganggu konsentrasi otak dan mata saya. Atau kadang bikin saya kesal. Sesekali ada sepeda motor lewat, kadang suaranya berisik. Saya Cuma menggerutu dan menekuk wajah karena kesal. Tapi, gimana lagi? Itu kan gang, pasti banyak orang yang lewat. Tapi, setidaknya di sini ada warga yang memutar lagu. Meskipun saya tidak suka lagu itu, tapi lumayan lah… Tanpa terasa, waktu sudah menunjukan pukul 13.30. cuacanya panas sekali. Keringat bercucuran dari ketiak, kulit kepala dan selangkangan. Rambut saya lepek dan berminyak. Waktu saya garuk kepala,rambut saya rontok. Saya baru ingat kalau kemarin juga saya tidak mandi. Mantap lah… badan saya sudah bau matahari. Berarti, sepulang dari sini tidak ada tujuan lain selain kamar mandi. Hari ini sama seperti hari kemarin, saya tidak punya uang lagi. Tapi air dingin di kamar mandi menyegarkan kepala dan pikiran saya. Selesai mandi, saya bermaksud untuk ngutang mie rebus ke warung. Tapi, mata saya sudah berat dan lengket. Jadi, saya tidur saja.
Senin, 2 Agustus 2010. Pukul 09.00, saya sampai di Hegarmanah bersama teman saya Bef lagi yang sama-sama tidak punya uang sejak tiga hari yang lalu. Tapi untungnya saya masih punya senjata rahasia. Dia adalah kantong ajaib buatan sendiri, dia berisi uang koin recehan yang banyak, dia adalah penyelamat saya, dia adalah “si kanjut kundang” (saya tidak jorok, karena memang begitulah namanya sejak dulu kala). Dia berisi sekitar Rp.12.500. Itu jumlah yang lumayan. Setidaknya kami masih bisa merokok. Jadi sekitar lima jam saya menggambar, saya dan Bef tidak kekurangan rokok. Hal seperti ini sudah tidak asing lagi bagi kami. Kami sering kehabisan uang sebelum waktunya. Bahkan dulu kami pernah berbagi uang Rp.1.500 dan sebuah tempe goreng untuk dibagi dua. Tapi justru itulah yang membuat kami masih berteman baik sampai sekarang dan hal itu lah yang membuat kami begitu menghargai harta sekecil apapun yang kami miliki. Hari ini saya sulit diganggu, sulit diajak bicara, sulit diajak bercanda (itu karena saya lagi miskin dan lapar…). Saya sedang menikmati sekali pekerjaan saya. Sepertinya saya punya dunia saya sendiri. Wajah saya ditekuk, menandakan kalau saya sedang serius dan konsentrasi. Tapi, sekeras apapun saya berkonsentrasi, cuma satu yang bisa menggoyahkan saya, yaitu pindang (itu makan siangnya). Allahu akbar!!…… Tuhan mendengar isi hati saya dan yang sedang saya pikirkan!! Sungguh, sejak tadi saya memang memikirkan pindang yang masih hangat. Alhamdulillah…nuhun ya Allah!! Walaaah….tanpa ragu lagi, saya ngambil dua kemudian menikmati sekali. Luar biasa! Kadang hal seperti ini membuat saya merinding, kadang membuat saya semakin yakin pada Tuhan saya, atau terkadang juga membuat saya merasa malu. Allah maha mendengar, maha mengetahui. Saya belum meminta, Allah sudah memberi. Kadang saya malu untuk memohon sesuatu karena saya belum menjalankan perintahnya dengan baik. Setelah selesai makan, saya santai sebentar sambil jongkok, merokok, lalu mengobrol. Bercerita hal-hal yang tidak penting tapi lucu,bercanda bla bla bla dll. Tapi, ternyata saya jadi ngantuk, karena saya kebanyakan nasi. Wah, rasanya saya ingin tidur saja daripada menggambar. Si Bef juga sama-sama ngantuk. Dan yang ada disitu memang kita berdua dan dua orang teman yang lainnya, Candra dan Rayi. Tapi, ayo lah…. Saya ingin cepat-cepat menyelesaikan gambar saya, sebelum ide lain yang baru muncul dan sebelum cuacanya panas seperti kemarin, nanti malah tambah males. Sama sekali tidak ada gairah atau semangat seperti tadi pagi yang masih lapar. Sekarang sudah kenyang malah jadi ngantuk.
Selasa, 3 Agustus 2010. Ibu saya bilang adik saya sedang sakit, jadi saya kesiangan lagi karena saya disuruh Ibu menjenguk adik saya dulu di Gegerkalong. Saya tidak akan pernah mengeluh jika ibu saya menyuruh untuk menjenguk atau sekedar melihat kondisi adik bungsu saya itu. Saya menyayangi kedua adik saya, apa lagi Ghushni (adik bungsu). Kadang saya mengkhawatirkan kondisinya kerena dia sering sakit-sakitan, kadang dia sampai jatuh pingsan. Saya selalu mengingatkannya untuk memberitahu saya jika dia perlu batuan. Ya, setidaknya hari ini saya mandi dulu dan hari ini saya punya uang. Jam 09.00, pagi itu, cuaca terasa cukup panas dan bikin keringetan. Kebetulan saya lihat jaket adik saya yang menggantung di belakang pintu kamarnya. Kemudian saya meminjamnya karena saya kira hari ini akan panas lagi. Pukul 12.30 saya baru datang. Semua sedang serius mengerjakan pekerjaanya. Cuma beberapa yang menyapa saya yang kesiangan. Bagus, itu berarti mereka sungguh-sungguh dan lagi pula saya memang sedang tidak mau banyak ditanya. Yang sedang saya pikirkan saat itu adalah apa yang harus saya lakukan lebih dulu. Akhirnya saya putuskan untuk selesaikan dulu warna yang lebih mudah. Tapi, baru satu jam saya mewarnai, eh eh eh hujan turun, tapi rintik-rintik. Saya kira ini tidak akan lama, ternyata hujan yang renggang itu lama, sampai menjelang bubar. Maka, atas dasar kesepakatan bersama, hari ini tidak di lanjutkan karena hujan. Maka, kentang lah hari ini….
Rabu, 4 Agustus 2010. Ketika suasana hati saya sedang tidak enak. Seperti biasa saya bangun kesiangan, ditambah lagi hari ini saya tidak tahu harus melakukan apa dulu. Saya ingin pake tangga tapi yang lain belum selesai make, jadi saya tunggu giliran. Saya makin jenuh saja hari ini tidak tahu harus berbuat apa dulu, atau setidaknya saya berbuat sesuatu agar saya tidak ngantuk. Tapi itu tidak berlangsung lama. Saya segara mendapat tangga itu setengah jam kemudian. Tapi, giliran saya pake tangga hujan sudah turun lagi, padahal saya belum menggoreskan cat sedikit pun. Bweuh…. Gundah gulana, resah, gusar, geram. Saya cuma melamun di tempat yang teduh. Kemudian saya main ke tempat yang lain, ternyata yang lain juga sedang berteduh karena sedang hujan. Hal yang paling saya sukai dari gerombolan orang ini adalah saya selalu bisa tersenyum dan tertawa bersama mereka karena kita senang sekali bercanda tanpa mempedulikan waktu dan tempat. Kapanpun dan dimanapun, pasti akan selalu ada candaan yang segar dan baru. Atau ngobrol hal-hal tidak penting, tapi itu mengasyikkan. Tapi, kadang-kadang candaan itu meresahkan, seperti hari itu. Lama-lama disini sama juga, garing dan lama-lama mereka (kawan-kawan) jadi meresahkan. Karena saya tidak suka, saya kembali turun. Saya lihat tangga masih dipake, jadi saya menunggu lagi. Selama menunggu, saya hanya melamun. Lama melamun, saya jadi berpikir: ini karena saya selalu bangun kesiangan, bangun kesiangan karena buang-buang waktu tidur saya tadi malam (jadi maksudnya saya menyesal). Yah… intinya hari ini kentang juga lah….sama seperti kemarin. Tapi hari ini saya berpikir tentang kesalahan saya. Mudah-mudahan besok tidak begini lagi lah….
Kamis, 5 Agustus 2010. Tadi malam, saya mendengarkan cerita wayang golek sampai tertidur. Kemudian hari ini pikiran saya merasa fresh. Oks lah…. Kondisi hari ini tidak jauh berbeda dengan yang kemarin. Saya tetap tidak kebagian tangga, sementara gambar saya belum selesai. Ya uds lah.... kalau begitu saya pinjam saja satu tangga lagi sama warga disana. Yes, ternyata memang ada. Tangganya memang pendek, tapi lumayan lah…. Lebih dari cukup. Sekitar jam 15.00 sore, hujan turun lagi. Kali ini hujannya lebih deras dan lama. Beberapa karya teman saya ada yang luntur, tapi untungnya punya saya tidak. Begitu hujan berhenti, saya langsung melanjutkan pekerjaan karena masih banyak yang harus diselesaikan, sementara kawan-kawan yang lain masih menunggu hujan yang masih rintik-rintik itu berhenti. Sekitar jam 16.30 sore, saya menghentikan pekerjaan karena hujan mau turun lagi. Ya sudah lah…. Hari ini cukup, tapi saya puas atas apa yang saya kerjakan hari ini. Terima kasih Tuhan, terima kasih wayang golek.
Jum’at 6 Agustus 2010. Saya sakit kepala. Badan saya juga terasa pegal-pegal, tulang-tulang ini juga rasanya sakit. Mungkin karena kemarin malam saya main bola. Tapi da gimana lagi atuh… gambarnya harus selesai hari ini, jadi harus dipaksakan…. Sejenak saya lihat gambar saya di tembok itu. “Gusti, pekerjaan saya masih lama sekali, kira-kira selesai jam berapa?, saya harus apa dulu? Apa dulu? Apa dulu?”. Sampai selesai shalat jum’at, saya terus berpikir seperti itu sedangkan keinginan saya banyak. Saya seperti menyusun strategi perang. Tapi tidak ada watu lagi untuk maping ide-ide yang lain. Akhirnya saya lakukan hal yang sama seperti hari kemarin. Sudah jam 15.00 sore, tapi ini masih belum selesai. Saya tidak bicara, tidak bercanda, tidak melamun, tidak mengantuk (berusaha tidak mengantuk). Saya hanya bergerak. Mata saya hanya melihat tembok yang saya beri warna hitam. Tanpa terasa, langit juga mulai menghitam. Hari sudah mulai gelap, tapi saya belum selesai juga. Ada cahaya yang menerangi saya dan tembok itu, ternyata itu adalah lampu senternya si Egy teman saya. Walah, terima kasih Egy dan kantong ajaibnya. Akhirnya saya tiba pada sentuhan akhir. Saya menggambar jaring laba-laba di pintu tembok (sebenarnya, kenapa di tembok itu masih ada pintu? Kan pintunya sudah tidak dipakai) sebenarnya saya ragu menggambar di pintu itu, karena di pintu itu ada kehidupan. Waktu saya bersihkan pintunya, di sana ada banyak laba-laba bersarang. Tapi pintunya banyak coretan-coretan norak. Jadi saya gambar saja sekalian, dari pada menggangu keindahan. Saya akhirnya selesai begitu adzan isya berkumandang…. Alhamdulillah, nuhun ya Allah, saya diberi kekuatan luar biasa. Padahal badan yang tinggal tulang ini sedang sakit. Terima kasih pengalaman, terima kasih kawan-kawan yang membantu, dan terima kasih tuhan, untuk imajinasi yang berharga ini, dan mudah-mudahan bermanfaat untuk banyak orang.

Selasa, 17 Agustus 2010

Mural Sebagai Media Melestarikan Kearifan Lokal

Putra Gumilar-PROCESS CREATIVE

Kearifan lokal atau dalam Bahasa Inggris terkenal dengan sebutan local genious/local wisdom ialah segala sesuatu yang tangible(terlihat) maupun yang intangible(tidak terlihat) yang menjadi ciri khas, keunikan bahkan bisa menjadi identitas dari suatu daerah. Di Jawa Barat misalnya, tatar Pasundan ini memiliki banyak kearifan lokal, seperti : PERSIB, angklung, tari jaipong, Gedung Sate, Bebegig Sukamantri, gatrik, sampai galendo & cireng. Karena memang kearifan lokal tidak melulu hanya tentang tradisi atau budaya.

Banyak cara untuk dapat melestarikan kearifan lokal. Mural salah satunya. Mural merupakan seni visual yang medianya berupa dinding ini menjadi alternatif revitalisasi kearifan lokal. Dan baru – baru ini langkah tersebut dilakukan oleh sejumlah orang termasuk saya, dari komunitas ilustrasi & desain PROCESS CREATIVE. Sebagian besar anggota komunitas PROCESS CREATIVE yang terlibat pada kegiatan mural tersebut adalah Mahasiswa Desain Komunikasi Visual UNIKOM. Kegiatan ini menjadi acara tahunan PROCESS semenjak tahun 2008. Kebetulan tema yang diangkat pada mural kali ini adalah “MURAL BUDAYA 2010: Khasanah Cerita & Permainan Rakyat Jawa Barat” sehingga secara tidak langsung ikut dalam upaya melestarikan kearifan lokal.

Saya sendiri memilih cerita Ciung Wanara yang berasal dari daerah Galuh Ciamis. Cerita yang menceritakan tentang perjuangan seorang anak berjuang mencari jati diri setelah sebelumnya sewaktu kecil ia dibuang & mencoba kembali ke Kerajaan Galuh Pakuan yang menjadi asal muasal dirinya dengan membawa ayam aduan.

Acara mural
Dan hari pertama kegiatan mural pun terlaksana. Jum’at siang pada tanggal 30 Juli 2010 di gang sempit daerah Setiabudi Bandung ramai tak seperti biasanya. Sejumlah orang dengan bersenjatakan kuas & cat berkumpul mempersiapkan diri dalam kegiatan mural tersebut. Setelah peresmian oleh “pejabat” tingkat kelurahan dan pembagian tempat mural, maka seketika tiap – tiap orang bergerak menuju tempat masaing – masing guna membuat goresan awal pada tembok yang akan menjadi berwarna pada tujuh hari kedepan. Hari pertama saya lalui dengan sketsa awal & sedikit cat menempel pada “area kerja” akan tetapi kondisi fisik ternyata kurang mendukung pada kali ini. Namun semangat melestarikan kearifan lokal terlalu besar sehingga saya tidak mempedulikan fisik yang mulai menurun. Di hari kedua dimana tembok gang yang mulai ramai dengan goresan kasar berupa sketsa mengawali hari saya dalam menyelesaikan “project satu minggu”. Kembali, kondisi fisik yang dirasakan pada hari sebelumnya ternyata bertambah parah pada hari kedua mural. Ditambah terik matahari yang menyengat membuat badan terasa mudah lelah. Setelah memaksakan mengerjakan mural di hari kedua rupanya fisik tidak lagi mau berkompromi dihari selanjutnya. Sampai akhirnya badan gontai lemas berbaring selama hampir satu minggu di atas kasur kamar membuyarkan mimpi menyelesaikan tugas mural yang ditunggu – tunggu disetiap tahunnya. Alhamdulillah, Akan tetapi teman – teman PROCESS berbaik hati membantu menyelesaikan gambar berukuran 4x5 m milik saya. Sehingga pada waktu penutupan mural, gambar yang berada di area kerja saya pun terselesaikan. Terima kasih teman – teman PROCESS! Gang Panji di Jl. Hegarmanah pun menjadi warna – warni bersiap menyambut Hari Proklamasi Bangsa Indonesia.

Dengan berkaca pada peristiwa yang terjadi sebelumnya bahwa keinginan tak melulu sejalan dengan keadaan. Sebesar apapun usaha seseorang apabila salah satu faktor pendukungnya tidak sejalan maka tidak akan berhasil pula seseorang tersebut mencapai keinginannya. Namun setidaknya ada usaha & kerja keras dalam diri orang itu. Dan satu lagi keberhasilan dalam upaya melestarikan kearifan lokal di Indonesia disaat tidak sedikit pula yang melupakannya. Sehingga generasi dahulu, generasi sekarang, dan generasi yang akan datang dapat memiliki kesempatan yang sama dalam menikmati kearifan lokal. (**putragumilar)

Senin, 16 Agustus 2010

Bermain “SOSORODOTAN” di Belakang Hotel Grand Seriti Bandung

Akhmad Ramanda Hadi Putra -PROCESS CREATIVE


Berbekal modal seadanya, niat setulus hati, dan tenaga yang tidak seberapa, anak-anak process creative mengadakan event “Mural Budaya 2010” yang diselenggarakan di jalan Hegarmanah Gg. Panji Bandung pada tanggal 30 agustus lalu. Hal ini untuk membuktikan bahwa untuk mengabdi kepada masyarakat, perusahaan-perusahaan tidak harus menjadi sukses terlebih dahulu, atau dapat dikatakan harus jadi perusahaan besar terlebih dahulu, melainkan cukup dengan modal seadanya, niat setulus hati, dan tenaga yang tidak seberapa seperti halnya yang CV. PROCESS CREATIVE lakukan dalam bentuk event mural.

Tujuan dari kegiatan ini sebenarnya sangat sederhana, yaitu mengingatkan kembali masyarakat kepada akar-akar budaya jawa barat agar mereka tidak melupakannya dan juga untuk mempertahankan akar-akar kebudayaan dari generasi ke generasi.

Seperti contoh legenda Sangkuriang, Situ Bagendit, Talaga Warna yang saat ini hampir dilupakan oleh para orang tua untuk diceritakan ke anak-anaknya. Kalau begitu terus, lama kelamaan mungkin legenda tersebut sudah tidak terdengar lagi dan tidak ada yang pernah tahu lagi. Maka dari itu anak-anak process creative berusaha melestarikan akar-akar budaya jawa barat dengan cara mengadakan event “Mural Budaya 2010”. Namun seiring berjalannya waktu dan kegiatan tersebut berlangsung, ternyata implementasi masyarakat terhadap gambar mural yang dibuat sangatlah beragam. Seperti contohnya saja gambar mural yang saya buat yaitu Permainan Rakyat Jawa Barat “Sosorodotan” (permainan seluncur dengan menggunakan batang pohon kelapa). Ada yang menyebutnya Upin & Ipin, ada juga yang menamakan karakter dalam gambar tersebut seadanya, dan banyak lagi.

Itu menandakan bahwa tujuan awal dari acara tersebut kurang berhasil. “Meskipun begitu yang penting kita sudah bisa menghibur masyarakat dengan gambar kita, itulah yang paling penting dalam hal mengabdi kepada masyarakat.” Ujar Pak Dodi Nursaiman (pendiri process creative). Benar apa yang dikatakan oleh bapak dodi nursaiman tentang pengabdian masyarakat. Memang selalu saja ada hal yang tidak tersampaikan kepada target audiens saat kita menyampaikan informasi visual terhadap mereka, namun sekali lagi itu merupakan hal yang sangat lumrah. Seperti yang dikatakan oleh bapak dodi nursaiman bahwa yang penting kita sudah bisa menghibur masyarakat dengan gambar kita. Maka secara garis besar sebenarnya apa yang diharapkan oleh anak-anak process creative tercapai.

Sangat senang rasanya melihat antusiasme masyarakat sekitar yang begitu mendukung acara ini. Terima kasih kepada ibu Lurah, bapak RW 3, bapak RT 3, serta masyarakat sekitar yang telah mendukung acara ini sampai berjalan dengan lancar. Sungguh momen yang tak terlupakan di tahun 2010 ini bagi diri saya sendiri. Mudah-mudahan tahun depan acara ini dapat terselenggara lagi dengan perencanaan dan persiapan yang lebih matang. Amin.
  

Minggu, 15 Agustus 2010

BEHIND THE SHOW, MURAL LUTUNG KASARUNG

Arif Riana W - PROCESS CREATIVE
 
Jum’at, Tanggal 30 Agustus 2010
Setelah sarapan disianghari, saya pun pergi menuju Hegarmanah dengan berjalan kaki dan hanya beralaskan sandal jepit swallow biru dan sebatang rokok yang sudah menyala sejak selesai sarapan. Jarak dari Gandok ke Hegarmanah hanya dihitung dengan mengisap rokok sebatang, entah kalau jarak yang sebenarnya. Peresmian yang sederhana pun dilakukan oleh Pak RT/RW dan seorang ibu yang sepertinya sangat berpengaruh dan disegani. Hari pertama memulai mural di Hegarmanah yang selalu dilakukan PROCESS squad tiaptahunnya. Ini sudah tahun ketiga PROCESS melakukannya. Dimulai dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore.

Minggu, Tanggal 1 Agustus 2010
Dimulai pukul setengah 9 menuju Hegarmanah dengan uang saku yang sedang minim untuk membeli sepotong nasi, segalon air dan sebatang rokok untuk dihisap. Sampailah pada posisi dimana kaki berpijak menghadap dinding yang usang, melanjutkan goresan rerumputan yang kemarin belum usai. Sengaja pada sesi mural ini, saya mulai mewarnai dengan tahap block terlebih dahulu, mengingat tahun kemarin, pewarnaan gradasi membuat saya autis, asyik sendiri di bagian yang itu – itu saja :D Enjoy, nyaman dan tenang, itulah perasaan mewarnai dengan pola gradasi. Dan jangka waktu pada saat itu memang sedikit, hanya 4 hari full begadang. Tetapi saya menambah satu hari menjadi 5 hari, dan dengan hasil yang sebenarnya kurang memuaskan dan diluar dugaan :p. Tapi itu tahun lalu, tahun ini tidak terulang dengan siasat pewarnaan ngeblock terlebih dahulu, jadi jika ada waktu yang tersisa,saya baru bisa memulai gradasi.
Disamping saya berdiri dan mewarnai, ada seorang wanita yang memulai pola pewarnaan gradasi. Hmmmm seperti melihat saya tahun lalu XD, dia terlihat anteng mewarnai sketsanya, seperti pagar rumah yang bertuliskan awas anjing galak.hmm...menyeramkan! monggo lah, semoga saja dia bisa melaluinya tepat waktu. Amin! Bagian bawah sketsa sudah terwarnai, lanjut ke bagian kulit. Saya membutuhkan warna kuning langsat untuk bagian ini. Mulailah meracik warna, mencampur dari warna ke warna, mencari si kuning langsat. Lima menit berlalu namun saya belum mendapatkannya, sampai wadah yang saya genggam luber dengan warna yang tidak jelas. Terlihat bahwa saya sudah lama tidak bermain dengan warna yang seharusnya saya kenal betul dengan karakter mereka.

Senin, Tanggal 2 Agustus 2010
Karena warna kulit pada gambar agak terlalu gelap, jadi saya retouch ulang menjadi agak terang. Naik turun tangga dan menunggu giliran. Belum lagi merapihkan dan memasang kembali sang tangga apabila ada motor yang ingin lewat. Yeah.. letih memang, kerongkongan pun agak terasa perih, batuk sudah seperti serigala yang melolong kesiangan. Ngomong – ngomong, tetangga yang kemarin asik bergradasi kini berubah menjadi blocking colouring. Kemudian saya bertanya, kenapa tidak lagi bergardasi? Dan dia pun menjawab sambil tersenyum, enggakdulu ah, belajar dari pengalaman,,hehehe! Lalu saya berucap,,wow belajar dari pengalaman siapa tuh? Dan dia pun berucap sambil tertawa, pengalaman tetangga sebelah,,hahaha!! Saya pun tertawa dan berucap,,bagus..bagus..bagus..,tapi kalausempat di gradasikan saja, dan dia pun menjawab,,oke!! Perbincangan kecil semagam ini seperti sapaan selamat pagi yang diubah menjadi obrolan singkat dan sedikit candatawa,merefreshkan suasana jam 9 yang masih tampak seperti suasana di jam 7 pagi, karna gedung yang menjulang tinggi menghalangi sinar matahari yang seharusnya bisa dinikmati pagi hari itu. Namun tak apalah. Memang begitu keadaan lokasi. Sepertibiasa, bila sudah memasuki kawasan jenuh, rekan-rekan sedikit meluangkan waktu untuk membuka obrolan-obrolan kecil dan canda gurau disela-sela peristirahatan yang melelahkan karena kondisi fisik agak mulai tak stabil.

Selasa, Tanggal 3 Agustus 2010 
Jam 9 saya sudah mulai berangkat dari kostan. Hari ini saya mandi. Berlanjutlah memoleskan kuas pada dinding yang sangat tinggi menjulang. Ditemani Pink floyd - another brick in the wall di telinga beserta lagu-lagu lainnya yang dengan sabar ingin didengarkan. Sekitar jam 4 hujan tiba, membuat kegiatan tertunda dan harus dilanjutkan esok hari, karna si hujan membuat cat polesan baru luntur dan dinding lembap. Alhasil saya bersama rekan-rekan bergegas pulang setelah hujanreda dengan cuaca yang sudah gelap.

Rabu, Tanggal 4 Agustus 2010
Ternyata jam setengah 8 sudah yang paling pagi. Disana hanya ada sayabersama rekan saya bernama Ian, duduk bersama sambil meneguk kopi dan pisang goreng yang sudah disediakan bapak RT/RW. Tidak lama kemudian rekan lainnya, Rayi, langsung bergabung sarapan pagi. Setelah sarapan usai, kita pun langsung melanjutkan mural yang kemarin terputus oleh hujan. Satu per satu rekan-rekan yang lainnya berdatangan dan mulai pada posisinya masing-masing. Kegiatan itu berlanjut hingga jam istirahat dan makan siang. Jam setengah 4 gerimis turun, terpaksa kegiatan harus berhenti dan berteduh hingga gerimis berhenti sekitar setengah jam kemudian. Terlihat sosok pemuda dengan rambut agak keriting dan wajahnya tidak terlalu asing diotak saya, dan ternyata itu adalah salah satu temannya rayi datang untuk meliput. Tidak lama kemudian gerimis lagi, dan kini tidak hanya gerimis tapi agak lebat dan lama berhenti. Di peristirahatan semua berkumpul, termasuk peliput yang sedang asik mengobrol dengan Rayi, sayapun duduk ikut merapat bersama mereka. Ternyata benar. Kami saling merasa tidak asing. Sebelumya, si peliput habis meng-interview GM kami Irvan (blutz). Si peliput menanyakan satu pertanyaan kepada saya mengenai apa itu mural. Saya sampaikan saja definisi mural versi saya dan Blutz pun menambahkan sedikit dari definisi saya. Setelah hujan reda, lanjut mural lagi. Kali ini saya mengecek dan memperhatikan bagian perbagian dari gambar yang sudah saya buat. Ada beberapa bagian yang berceceran saling menimpa bagian lainnya. Mau tidak mau harus dibersihkan dan mencari warna cat yang sama seperti bagian yang sudah tertimpa oleh warna yang lain. Sayangnya, gerimis dan hujan datang lagi, kegiatanpun benar – benar harus dihentikan! Butuh kesabaran yang sangat...  -_-“

Jum’at, tanggal 6 Agustus 2010
yeaaahhh!!! Last day project!jadi harus cepat menyelesaikannya. Tapi tidak seperti yang diinginkan.Tangga mendadak sulit didapat. Kami harus bergiliran memakainya. Sembari menunggu tangga, meracik warna saja lah akhirnya. Background bagian atas sudah terpoles, lanjut bagian bawah. Saya harus mencampur beberapa warna berkali – kali agar sama dengan sketsa dasar pada kertas A3 yang sudah saya buat untuk cerita lutung kasarung. Alhasil disore itupun gambar pada dinding selesai juga, ON TIME!Tapi niat luhur saya memberikan gradasi pada semua bagian gambar yang saya buat tidak terlaksana :p

Rabu, 11 Agustus 2010

BERMAIN KELERENG DI ATAS DINDING

Merlina F Nasruddin-PROCESS CREATIVE

(Bandung)- Mengutip kata – kata seorang penyair tentang motif berkarya, “Karena berpuisi adalah pilihan dalam berekspresi”, begitu juga apa yang saya dan kawan – kawan PROCESS CREATIVE lakukan tanggal 30 Agustus 2010 lalu di gang Panji, Hegarmanah, Bandung. Bisa dikatakan, karna mural adalah pilihan kami dalam berekspresi. Tentu saja bukan ekspresi yang cenderung sepihak, karna proyek mural ini pada dasarnya adalah kontribusi PROCESS CREATIVE untuk masyarakat. Kami menuangkan apa saja yang kami anggap bernilai, dan membagi rasa itu dengan masyarakat luas, tentunya lewat karya visual yang kami buat. Karna prosesnya terjun dan berbaur langsung dengan masyarakat, jadinya kami harus mengerti dulu, mural adalah pengalaman berkarya yang menuntut kepekaan sosial dan keterampilan mensinergikan interpretasi pribadi dengan selera masyarakat, berhubung terkadang hasil mural tidak sama persis dengan sketsa awal yang nantinya akan muncul kemungkinan multi interpretasi yang melenceng dari niat awal.

Dari tema kearifan lokal, saya mengambil permainan gundu sebagai produk lokal yang dimuralkan, mengingat gundu/kelereng atau poces/kaleci dalam bahasa Sunda, sudah jarang membudaya lagi dikalangan anak – anak kota maupun pinggiran. Tentu saja beban tugas menjadi lebih besar. Saya harus bisa, tidak hanya menarik minat masyarakat untuk menyimak mural yang saya buat, tapi juga memperkenalkan permainan gundu kepada anak – anak yang belum memainkannya. Atau lebih jauh lagi, membangkitkan kembali memori masyarakat akan asyiknya nilai – nilai kompetisi dalam permainan ini.

Untuk mencapai itu, saya menggambar banyak anak yang sedang memainkan gundu beserta gundu – gundu dalam banyak ukuran, seakan – akan anak – anak itu lah point of interestnya, supaya penikmat mural saya yang anak – anak jadi merasa terwakili. Ini lah bentuk interaksi unik, antara seniman mural dengan masyarakat, maupun karyanya dengan masyarakat.

Ditengah proses, muncul kecemasan, kalau hasil akan berbanding terbalik dengan yang diekspektasikan. Misalnya, saya malah akan menampilkan kesan bermain gundu yang menjemukan dan tidak esensial, hanya sekedar menyemarakkan dinding dengan gambar. Tapi saya bersyukur sekali, ada anak – anak  yang jadi saling bertanya satu sama lain dan jadi membahas permainan ini sambil ceria. Bahkan ada yang menamai satu persatu gambar anak dengan nama temannya. Yess, efek antusias begini yang saya butuhkan hwehe :D

Yang melegakan lagi, sambutan dari masyarakat gang Panji. Terimakasih banyak toleransinya, memberi kami keleluasaan di lapak yang langsung berhadapan dengan rumah penduduk, juga toleransinya memasukan aktivitas mural kami selama seminggu kedalam hirukpikuk keseharian mereka. Termasuk Bu Lurah (terima kasih suguhannya :D) dan dua rumah yang sudah menerima kami berteduh dari hujan, terima kasih banyak :D

Menjadi kepuasan bersama, ada mural kami di gang yang jalanya selebar satu rentangan tangan. Tidak  jarang disela – sela teknis mural, kami harus berhenti untuk menggeser, melipat tangga dan mendirikannya kembali untuk motor – motor yang lewat. Tapi semua terbayar. Kebanggaan menjadi seniman mural di gang Panji adalah menjadi bagian dari suatu lingkup masyarakat kecil yang harmonis satu sama lain. Ada kalanya, masyarakat kurang peka terhadap komunikasi visual yang dihadirkan dalam suatu gambar. Mereka cukup terpuaskan dengan menangkap hal – hal yang mudah mereka cerna saja. Misalnya, mengatai anak – anak botak dalam gambar sebagai tuyul, menangkap karakter monyetnya saja dalam sebuah alur gambar cerita lutung kasarung, dsb, tanpa tahu esensi – esensi apa saja yang disimpan pembuatnya dalam karya itu. Bukan keadaan yang salah, mungkin soal waktu saja, dan keinginan lebih untuk membuat karya yang mendidik,  lagi dan lagi. Setidaknya masyarakat tidak asing lagi dengan sebutan ‘’mural’. Berharap efeknya bisa membesar. Isu mural bisa sampai dari satu gang ke gang lain. Dan turis – turis akan datang, karna Bandung penuh dengan mural sebagai alasanya :)

Sabtu, 31 Juli 2010

MURAL BUDAYA 2010 "Khasanah Cerita dan Permainan Rakyat Jawa Barat"

      
 
 
      Mural ini dimaksudkan untuk sebagai bentuk narasi baru dari cerita rakyat dan permainan di jawabarat, dimana cerita rakyat dan permainan rakyat saat ini sudah dapat dikatakan tidak pernah lagi di lakukan oleh anak - anak sekarang , khususnya yang tinggal di daerah perkotaan. Ini hanyalah babak awal sebagai bentuk perhatian pada nilai nilai budaya lokal yang kini semakin terkikis tenggelam oleh intervensi media yang memuat muatan barat. Mural ini hanyalah salah satu alat counter dari pengaruh luar yang semakin menjalar di pemikiran anak anak generasi bangsa. Tema yang diangkat adalah “ Mural Budaya 2010 ” Khasanah Cerita dan Permainan Rakyat Jawa Barat. Dibawah bimbingan Dodi Nursaiman S.Ds selaku direktur CV. PROCESS CREATIVE, kami mencoba menjadikan mural sebagai respon atas terkikisnya nilai – nilai kebudayaan lokal jawa barat oleh gaya hidup urban.


Daftar Seniman Mural

1.    Adhi Surya Adhiatmaja
2.    Akhmad Ramanda Hadi Putra
3.    Arif Riana
4.    Candra Gunawan
5.    Citra Artika Sari
6.    Diky Fajar
7.    Egi Triyanto
8.    Ian Permana
9.    Irfan Fauzi
10.   Irfan Maulanasam
11.   Irvan Mardiansah
12.   Kukuh Ramadhan
13.   Lisna Kusmyaty
14.   Luthfi Al Hadi
15.   Merlina Fatimah Nasruddin
16.   Muhammad Syafi Al-Adham
17.   Putra Gumilar
18.   Rayi Susprayitno Satyaperkasa
19.   Rustam
20.   Windi Lastri Pebriani