Rabu, 25 Agustus 2010

“RESISTENSI TEMBOK ABU – ABU “

 Irvan Mardiansah-PROCESS CREATIVE

Pada kesempatan kali ini saya akan kembali mengulas tentang latar belakang dari kegiatan mural yang sudah berjalan 3 tahun terakhir ini di Gg. Panji  Jl. Hegarmanah Bandung. Karena saya pikir kita harus kembali mengingat apa tujuan utama dari kegiatan mural yang kita lakukan ini supaya dapat di pertanggungjawabkan dan menjadi sesuatu yang berarti bagi kita seniman mural dan masyarakat pada umumnya. Trigger kegiatan “ Mural Budaya 2010 “ ini berangkat dari keprihatinan PROCESS terhadap kondisi anak – anak terutama yang berada didaerah perkotaan yang sudah melupakan bahkan tidak tahu dengan khasanah cerita / legenda dan permainan rakyat Jawa Barat pada khususnya. Anak – anak pada saat ini lebih mengenal hero dan heroine dari barat dan yang sedang happening sekarang cerita Upin & Ipin dari negara tetangga kita Malaysia, daripada cerita Lutung Kasarung misalnya. Terlebih lagi mereka sampai menduplikasi / mengadopsi hero dan heroine dari barat atau Upin & Ipin tersebut melalui t – shirt, accessories, dan sebagainya menjadi suatu gaya hidup kebendaan. Menyikapi hal tersebut kita sangat merasa sedih, kita seperti dipecundangi dan dilecehkan. Kita semakin masuk ke dalam hegemoni negara barat dan negara tetangga Malaysia, terlebih lagi mengingat kejadian beberapa saat kebelakang. Malaysia melalui Truly Asia – nya telah mengakui beberapa khasanah budaya kita menjadi bagian dari negaranya.  Dengan alibi karena mereka satu rumpun dengan kita, jadi mereka merasa kebudayaan yang kita miliki adalah bagian dari kebudayaan mereka juga. Hal tersebut menjadi deret panjang kesewenang wenangan mereka yang semakin merobek harga diri Negara kita.
Melalui hal kecil yang kita lakukan ini, mudah – mudahan bisa menjadi suatu resistensi dari penjajahan dalam bentuk kebudayaan. Walau dalam pelaksanaannya kita rasakan tidak mudah, karena kita harus melewati berbagai hambatan dan hinaan, tetapi hal tersebut tidak menyurutkan tekad kita untuk terus bergerak. Terus merangsak masuk dari gang ke gang untuk menumpahkan cat ke dinding – dinding  tinggi yang menjadi penanda dari keangkuhan, ketidakramahan dan perampasan akan hak – hak ( hak mendapatkan cahaya matahari ). Ya! Kita akan meruntuhkan dan membungkam keangkuhan tersebut dengan karya kita. Terus bergerak dari mulai sekarang dan seterusnya, sebelum terlambat dan tercuri lagi! ( saya yakin mereka akan mencuri lagi!).
Kalau semua orang menyadari akan output positif dari kegiatan ini, saya yakin tidak akan ada yang kontra terhadap kegiatan ini, seperti yang telah kita alami di hari pertama mural. Sikap kontra yang lahir dari kearoganan dan sentimen pribadi. Selain itu saya yakin teman – teman mahasiswa lainnya akan banyak yang bergabung dan melakukan hal yang serupa, daripada membuang waktu percuma di masa  - masa liburan seperti saat ini. Satu hal lagi, saya yakin teman – teman seniman mural yang terlibat pada “ Mural Budaya 2010 “ akan selalu ingat dengan kegiatan tersebut dan akan selalu ikut serta di tahun – tahun berikutnya, untuk sesuatu yang berarti sebelum kita mati!
Sorry, kalau saya terlalu berapi – api ………………………………
KEEP FIGHT!
MERDEKA!
                                                                                                                                               SPEAK OUT
                                                                                                                                                       BLUTZ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar