Selasa, 17 Agustus 2010

Mural Sebagai Media Melestarikan Kearifan Lokal

Putra Gumilar-PROCESS CREATIVE

Kearifan lokal atau dalam Bahasa Inggris terkenal dengan sebutan local genious/local wisdom ialah segala sesuatu yang tangible(terlihat) maupun yang intangible(tidak terlihat) yang menjadi ciri khas, keunikan bahkan bisa menjadi identitas dari suatu daerah. Di Jawa Barat misalnya, tatar Pasundan ini memiliki banyak kearifan lokal, seperti : PERSIB, angklung, tari jaipong, Gedung Sate, Bebegig Sukamantri, gatrik, sampai galendo & cireng. Karena memang kearifan lokal tidak melulu hanya tentang tradisi atau budaya.

Banyak cara untuk dapat melestarikan kearifan lokal. Mural salah satunya. Mural merupakan seni visual yang medianya berupa dinding ini menjadi alternatif revitalisasi kearifan lokal. Dan baru – baru ini langkah tersebut dilakukan oleh sejumlah orang termasuk saya, dari komunitas ilustrasi & desain PROCESS CREATIVE. Sebagian besar anggota komunitas PROCESS CREATIVE yang terlibat pada kegiatan mural tersebut adalah Mahasiswa Desain Komunikasi Visual UNIKOM. Kegiatan ini menjadi acara tahunan PROCESS semenjak tahun 2008. Kebetulan tema yang diangkat pada mural kali ini adalah “MURAL BUDAYA 2010: Khasanah Cerita & Permainan Rakyat Jawa Barat” sehingga secara tidak langsung ikut dalam upaya melestarikan kearifan lokal.

Saya sendiri memilih cerita Ciung Wanara yang berasal dari daerah Galuh Ciamis. Cerita yang menceritakan tentang perjuangan seorang anak berjuang mencari jati diri setelah sebelumnya sewaktu kecil ia dibuang & mencoba kembali ke Kerajaan Galuh Pakuan yang menjadi asal muasal dirinya dengan membawa ayam aduan.

Acara mural
Dan hari pertama kegiatan mural pun terlaksana. Jum’at siang pada tanggal 30 Juli 2010 di gang sempit daerah Setiabudi Bandung ramai tak seperti biasanya. Sejumlah orang dengan bersenjatakan kuas & cat berkumpul mempersiapkan diri dalam kegiatan mural tersebut. Setelah peresmian oleh “pejabat” tingkat kelurahan dan pembagian tempat mural, maka seketika tiap – tiap orang bergerak menuju tempat masaing – masing guna membuat goresan awal pada tembok yang akan menjadi berwarna pada tujuh hari kedepan. Hari pertama saya lalui dengan sketsa awal & sedikit cat menempel pada “area kerja” akan tetapi kondisi fisik ternyata kurang mendukung pada kali ini. Namun semangat melestarikan kearifan lokal terlalu besar sehingga saya tidak mempedulikan fisik yang mulai menurun. Di hari kedua dimana tembok gang yang mulai ramai dengan goresan kasar berupa sketsa mengawali hari saya dalam menyelesaikan “project satu minggu”. Kembali, kondisi fisik yang dirasakan pada hari sebelumnya ternyata bertambah parah pada hari kedua mural. Ditambah terik matahari yang menyengat membuat badan terasa mudah lelah. Setelah memaksakan mengerjakan mural di hari kedua rupanya fisik tidak lagi mau berkompromi dihari selanjutnya. Sampai akhirnya badan gontai lemas berbaring selama hampir satu minggu di atas kasur kamar membuyarkan mimpi menyelesaikan tugas mural yang ditunggu – tunggu disetiap tahunnya. Alhamdulillah, Akan tetapi teman – teman PROCESS berbaik hati membantu menyelesaikan gambar berukuran 4x5 m milik saya. Sehingga pada waktu penutupan mural, gambar yang berada di area kerja saya pun terselesaikan. Terima kasih teman – teman PROCESS! Gang Panji di Jl. Hegarmanah pun menjadi warna – warni bersiap menyambut Hari Proklamasi Bangsa Indonesia.

Dengan berkaca pada peristiwa yang terjadi sebelumnya bahwa keinginan tak melulu sejalan dengan keadaan. Sebesar apapun usaha seseorang apabila salah satu faktor pendukungnya tidak sejalan maka tidak akan berhasil pula seseorang tersebut mencapai keinginannya. Namun setidaknya ada usaha & kerja keras dalam diri orang itu. Dan satu lagi keberhasilan dalam upaya melestarikan kearifan lokal di Indonesia disaat tidak sedikit pula yang melupakannya. Sehingga generasi dahulu, generasi sekarang, dan generasi yang akan datang dapat memiliki kesempatan yang sama dalam menikmati kearifan lokal. (**putragumilar)

1 komentar: